Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

CENTRAL CEROUS RETINOPATHY


CENTRAL CEROUS RETINOPATHY

PENDAHULUAN

Central serous retinopathy ( CSR ) atau lebih dikenal dengan nama retinopati serosa sentral adalah suatu kelainan pada retina, tepatnya pada macula lutea, penyakit ini jarang ditemukan, bersifat unilateral, self limited desease dan ditandai oleh pelepasan serosa sensorik sebagai akibat dari kebocoran setempat cairan dari koriokapilaris melalui defek di epitel pigmen retina. Penyakit ini biasanya mengenai pria berusia muda sampai pertengahan dan mungkin berkaitan dengan kejadian-kejadian stress  kehidupan ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ).

Penjelasan mengenai hal ini adalah karena pria cenderung mempunyai kehidupan yang lebih stress, paparan terhadap kejahatan lebih tinggi, jam kerja yang lebih panjang, tanggung jawab keuangan yang lebih besar dan pekerjaan yang lebih berbahaya (4).

Melalui peneletian retrospektif, Haimovici mendapatkan bahwa steroid sistemik dan kehamilan merupakan faktor sistemik yang berhubungan dengan pembentukan CSR. Faktor resiko lainnya adalah pemakaian antibiotik, konsumsi alkohol, hipertensi yang tidak terkontrol, dan penyakit saluran nafas alergik ( 4 ).

ANATOMI RETINA

Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Lapisan-lapisan retina mulai dari sisi dalamnya adalah ( 1 ) :

  1. membrane limitans interna
  2. lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju nervus opticus.
  3. lapisan sel ganglion.
  4. lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan bipolar
  5. lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal.
  6. lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipilar dan horizontal dengan fotoreseptor.
  7. lapisan inti luar sel fotoreseptor.
  8. membrane limitans eksterna.
  9. lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut

10.  lapisan pigmen retina.

Untuk melihat  mata harus berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks dan sebagai suatu transducer yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui saraf opticus dan akhirnya ke korteks penglihatan. Macula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan antara fotoreseptor kerucut, sel gangglionnya dan serat saraf yang keluar, dan hal ini menjamin penglihatan yang tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan system pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari susunan ini adalah bahwa macula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan warna ( penglihatan otopik ) sedangkan bagian retina yang lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam ( skotopik ) ( 1 ).

Fotoreseptor kerucut dan batang terletak dilapisan terluar yang avaskular pada retina sensorik dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mencetuskan proses penglihatan. Penglihatan siang hari terutama diperantarai oleh fotoreseptor kerucut, senjakala oleh kombinasi sel kerucut dan batang, dan penglihatan malam oleh fotoreseptor  batang ( 1).

Epitel pigmen retina ( RPE ) terbentuk dari satu lapis sel, melekat longgar pada retina kecuali diperifer  ( ora serata ) dan disekitar lempeng optic. RPE ini membentuk mikrovili yang menonjol diantara lempeng segmen luar sel batang dan sel kerucut dan menyeimbanginya. Lapisan ini berfungsi memfagosit sisa segmen eksternal sel batang dan kerucut, memfasilitasi pasase nutrient dan metabolit antara retina dan koroid, serta berperan dalam regenerasi rodopsin dan opsin sel kerucut, pigmen visual fotoreseptor yang mengolah kembali vitamin A. RPE juga mengandung granula melanin yang  mengabsorpsi cahaya yang terpencar ( 6 ).

PATOFISIOLOGI

Kebocoran ( leakage ) pada lapisan epitel pigmen diduga disebabkan oleh kelainan hormonal dan infeksi oleh virus. Lubang kebocoran ini merupakan suatu pintu masuk untuk mengalirnya cairan dari bawah lapisan epitel pigmen ke ruangan dibawah retina sehingga terjadi pengumpulan cairan dibawah retina. Pengumpulan cairan dibawah retina didaerah macula retina ini menyebabkan penglihatan penderita sangat terganggu ( 5 ).

Baru sejak ditemukannya ICGA pada tahun 1993, patogenesis CSR telah diketahui dengan pasti. Kelainan ini disebabkan oleh abnormalitas sirkulasi koroid yang selanjutnya menyebabkan iskemia koroid, hiperpermeabilitas vascular koroid, RPE ( retinal pigment epithelium ) detachment, dan ablasio retina sensorik. Abnormalitas sirkulasi koroid ini dihubungkan dengan kondisi hiperkortisolisme seperti kehamilan, stress dan kepribadian tipe-A, sindrom Cushing, dan pemakaian glukokortikoid ( 4 ).

Pada awalnya glukokortikoid merupakan obat pertama yang digunakan secara luas sebagai terapi CSR. Namun dengan beberapa penelitian didapatkan fakta bahwa glukokortikoid merupakan suatu factor resiko  yang bermakna dalam timbulnya CSR. Mekanisme patofisiologinya belum diketahui. Penjelasan yang diterima saat ini adalah pengaruh glukokortikoid terhadap sirkulasi koroid. Aliran darah koroid diketahui diatur oleh system simpatis dan secara antagonis dengan system parasimpatik untuk menghambat produksi  nitric oxide synthase, suatu modulator vascular. Interaksi ini menyebabkan spasme pembuluh darah koroid dan iskemia koroid ( 6 ).

GEJALA KLINIS

Dari anamnesis penderita akan mengeluh mata kabur untuk membaca dan melihat jauh, terutama jika melihat benda tampak lebih kecil atau lebih besar dari mata yang sehat, dan penderita akan melihat suatu bayangan gelap berbentuk bulat atau lonjong ditengah lapang pandangan ( bercak hitam) . Tidak ada rasa sakit pada mata dan mata tidak merah serta tidak mengeluarkan air mata ( 5 ).

Sebagian besar pasien datang dengan penglihatan kabur yang timbul mendadak, mikropsia, metamorfosia, dan scotoma sentralis dan gangguan adaptasi gelap. Ketajaman penglihatan sering hanya berkurang secara sedang dan dapat diperbaiki mendekati normal dengan koreksi hiperopik kecil ( 1 ) ( 2 ).

Dari penelitian, 75 % mengalami hipermetropisasi. Sebagian hipermetropisasi yang terjadi adalah hipermetropisasi ringan ( antara S+0.25 D dan S+1,00 D ). Fenomena ini sesuai dengan kondisi anatomi yang terjadi pada CSR, yaitu terangkatnya retina sensorik akibat penimbunan cairan serosa didalam ruang subretina. CSR juga menyerang individu yang mempunyai status refraksi emetropia atau hipermetropia, dan jarang sekali mengenai individu myopia. Hubungan antara kelainan refraksi dengan resiko terkena CR belum dapat dijelaskan ( 4 ).

DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan ( 1) ( 2 ) (3 ) ( 4 ) ( 5 ):

    • Visus: Penglihatan kabur, turun menjadi 6/9 sampai 6/12, dengan koreksi lensa   positif akan lebih terang atau mendekati normal ( hipermetrop )
        • Pemeriksaan eksterna: Konjungtiva, kornea, iris, lensa tampak normal.
            • Tekanan bola mata: Normal
              1. Indirect ophthalmoscopy: tampak ada penonjolan retina didaerah macula retina yang berbentuk bulat lonjong dengan batas yang jelas. Pada kasus yang jarang terjadi dimana CSR dapat menyebabkan gumpalan yang memisahkan lapisan retina, mengakibatkan peningkatan cairan subretina. Akan tampak cairan eksudat berwarna putih kekunin-kuningan.
              2. Slitlamp biomicroscopy ( sangat berperan dalam penegakan diagnosis ):  Adanya pelepasan serosa retina sensorik tanpa peradangan mata, neovaskularisasi mata, suatu lubang kecil optic, atau tumor koroid. Lesi epitel pigmen retina tampak sebagai bercak abu-abu kekuningan, bundar atau oval, kecil yang ukurannya bervariasi dan mungkin sulit dideteksi tanpa bantuan angiografi flouresens.
              3. Fundal Flourescein Angiografi ( FFA ): Meskipun pada sebagian kasus sudah terdiagnosa secara klinik, pemeriksaan flouresens ini sangat membantu dalam membedakannya dengan penyakit lain yang mirip.  Pada CSR, terdapat gangguan pada barrier pembuluh darah retina yang menyebabkan molekul dari zat flouresens dapat masuk menuju ruang subretina. Akan tampak dua konfigurasi yang khas yaitu :
                • Konfigurasi Cerobong Asap: Pada awal masuknya zat flouresens, akan tampak titik hiperflouresens yang kemudian akan menyebar secara vertical. Beberapa lama kemudian , cairan akan masuk menuju ruang subretina dan naik secara vertical seperti tumpukan asap pada cerobong asap mulai dari titik kebocorannya sampai bagian akhir dari pemisahan lapisan retina. Lama kelamaan zat flouresens tersebut akan berbentuk seperti jamur atau payung sampai semua daerah yang terpisah terpenuhi oleh cairan flouresens.
                    • Optical Coherence Tomography (OCT): OCT merupakan pemeriksan yang sangat akurat untuk mendiagnosa CSR, terutama bila pemisahan lapisan retina yang dangkal. Bahkan pada beberapa kasus dapat memperlihatkan titik kebocoran.

                      TERAPI

                      Medikamentosa

                      1. Karena CSR ini merupakan self limited desease, maka tanpa pengobatan pun akan sembuh sendiri. Obat yang diberikan pun hanya obat yang dapat mempercepat menutupnya lubang kebocoran dilapisan epitel pigmen. Obat yang diberikan adalah vitamin dalam dosis yang cukup ( 5 ).

                      Penatalaksanaan CSR yang banyak dianut saat ini adalah observasi selama 3-4 bulan sambil menunggu resolusi spontan.Biasanya penyakit ini akan sembuh dalam waktu 8-12 minggu ( 4 ).

                      1. Asetazolamid  sebagai terapi pertama kali dikemukakan oleh Pikkel pada tahun 2002. percobaan ini didasarkan pada fakta bahwa asetazolamid terbukti efektif untuk mengurangi edema macula yang disebabkan oleh tindakan operasi dan berbagai kelainan intraocular lainnya.penelitian pikkel ini membuktikan asetazolamid dapat memperpendek waktu resolusi klinis, tetapi tidak berdampak terhadap tajam penglihatan akhir dan rekurensi CSR  ( 4 ).

                      Non medikamentosa

                      Jika penderita belum sembuh, maka dilakukan pengobatan dengan koagulasi sinar laser yang bertujuan untuk menutup lobang kebocoran dilapisan epitel pigmen. Keuntungan melakukan koagulasi ini adalah memperpendek perjalanan penyakit dan mengurangi kemungkinan kekambuhan tetapi tidak berpengaruh terhadap tajam penglihatan akhir ( 3 ) ( 5 ).

                      Fotokoagulasi laser Argon yang diarahkan kebagian yang bocor akan secara bermakna mempersingkat durasi pelepasan retina sensorik dan mempercepat pemulihan penglihatan sentral, tetapi tidak terdapat bukti bahwa fotokoagulasi yang segera dilakukan akan menurunkan kemungkinan gangguan penglihatn permanent. Walaupun penyulit fotokoagulasi laser retina sedikit, terapi fotokoagulasi laser segera sebaiknya tidak dianjurkan untuk semua pasien CSR. Lama dan letak penyakit, keadaan mata yang lain, dan kebutuhan visual okupasional merupakan factor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memutuskan pengobatan ( 1 ).

                      Dalam menggunakan fotokagulasi laser, dilakukan dua sampai tiga kali penyinaran tepat di sisi yang bocor, dengan ukuran titik sinarnya adalah 200µm. dilakukan penyinaran selama 0,2 detik dan dengan intensitas yang ringan untuk menghindari kerusakan RPE yang lebih lanjut. Kontraindikasi pengobatan ini adalah apabila sisi kebocorannya dekat dengan FAZ atau tepat di bagian FAZ ( 2 ).

                      Indikasi fotokoagulasi laser adalah ( 4 ) ( 5 ) :

                      1. CSR yang berulang
                      2. CSR sesudah 12 minggu belum membaik
                      3. visus penderita semakin terganggu dan penderita tidak bisa bekerja untuk melakukan pekerjaan yang penting.
                      4. timbulnya deficit visual permanent pada mata disebelahnya
                      5. munculnya tanda-tanda kronik seperti perubahan kistik pada retina sensorik atau abnormalitas RPE ( retina eigment epithelium ) yang luas.

                      PROGNOSIS

                      Sekitar 80 % mata dengan CSR mengalami resorpsi spontan cairan subretina dan pemulihan ketajaman penglihatan normal dalam waktu 6 bulan setelah awitan gejala . Namun, walaupun ketajaman penglihatan normal, banyak pasien mengalami defek penglihatan permanent,misalnya penurunan ketajaman kepekaan terhadap warna, mikropsia, dan skotoma relative. 20% – 30 % akan mengalami sekali atau lebih kekambuhan penyakit, dan pernah dilaporkan adanya penyulit termasuk neovaskularisasi subretina dan edema macula sistoid kronik pada pasien yang sering dan berkepanjangan mengalami pelepasan serosa ( 1 ) ( 2 )

                      DAFTAR PUSTAKA

                      1. Vaughan G, Daniel, dkk 1996. Oftalmologi Umum Edisi 14..  Widya Medika. Hal 199-200
                      2. Kanski, Clinical Ophtalmology. Third Edition. Dalam Miscellaneus Acquired Maculopathies. Hal 398-399
                      3. Sidarta, Ilyas Prof 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Dalam Penglihatan Turun Mendadak Tanpa Mata Merah. Balai Penerbit FKUI. Hal 197-198
                      4. Sengdy, Chandra Chauhari dr, Elvoiza dr. Ophtalmologica Indonesia, Jurnal Of The Indonesian Ophtalmologist Association 2005. Dalam Karakteristik Penderita dan Efektivitas Terapi Medikamentosa CSR. Volume 32. Hal 133-139
                      5. Pedoman Diagnosis Dan Terapi, RSUD Dokter Soetomo 1988. Dalam Sentral Serous Retinopati. Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata. FK Universitas Airlangga. Surabaya . Hal 107-108
                      6. James, Bruce dkk 2003.  Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke Sembilan. Dalam Retina dan Koroid.  Penerbit Erlangga. Hal 114
                      7. http://www.gogle.com . R, Steven, Virata MD FACS , William Institute, The Retina Center.
                      About these ads

                      9 Responses to “CENTRAL CEROUS RETINOPATHY”

                      1. saya bingung and harus kemana lagi ? sudah dicenter eye semarang,palembang. penyakit ini sangat menggangu sekali sehingga beraktivitas sering terganggu. mohon kabari saya apabila adA YANG SUDAH SEMBUH MAKASIH

                      2. Terima kasih atas pengetahuannya…..

                      3. Coba berobat di RS mata YAP Yogyakarta, ada websitenya juga, terima kasih

                      4. burn fat…

                        […]CENTRAL CEROUS RETINOPATHY « Welcome To My Blog[…]…

                      5. kmn ya berobatnya?

                      6. seminggu yang lalu saya melakukan laser retina namun saya masih merasa pusing dan terkadang pandangan tudak nyaman.apakah saya perlu control ke dokter atau hanya diminumi obat sakit kepala saja?

                      7. saya sudah lama terkena CSR tapi masih saja belum sembuh.
                        dulu sempat berobat di bandung tapi sejak pindah ke semarang pada akhir tahun 2004 tidak pernah berobat lagi.
                        genjala dan konsidi sama persis dengan yang telah dipaparkan.
                        kondisi ini sangat mengganggu dalam aktivitas sehari -hari, kepala cepat pusing karena melihat dengan cara yang tidak normal.
                        Saya musti berobat seperti apa dan kemana?


                      Leave a Reply

                      Fill in your details below or click an icon to log in:

                      WordPress.com Logo

                      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                      Twitter picture

                      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                      Facebook photo

                      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                      Google+ photo

                      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                      Connecting to %s

                      %d bloggers like this: