Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

ABORTUS


ABORTUS

PENDAHULUAN

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum

20 minggu akibat tindakan. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik.

FREKUENSI

Frekuensi abortus sukar ditentukan karena banyak abortus buatan tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi; juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai haid terlambat. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15%.

ETIOLOGI

Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut.

a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

Faktor-faktor  yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut.

  • Kelainan kromosom.

Yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom sex.

  • Lingkungan kurang sempurna

Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan  pada hasil konsepsi terganggu.

  • Pengaruh dari luar

Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.

b) Kelainan pada plasenta

Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.

c) Penyakit ibu

Pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lainnya dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononucleosis infeksiosa, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.

d) Kelainan traktus genitalis

Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting.

Adapun factor resiko yang dapat menyebabkan abortus antara lain 5:

ü      Kromosom yang abnormal

ü      Gangguan fase luteal

ü      Leiomyoma

ü      Serviks inkompeten

ü      Infeksi

ü      Antibodi antifetal

ü      Penyakit autoimun (synd.phospolipid)

ü      Radiasi sinar X

ü      Kontrasepsi IUD

ü      Obat-obatan, bahan kimia berbahaya dll

PATOLOGI

Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara dalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum); mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion).

Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, sehingga dinamakan mola kruenta. Bentuk ini akan menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan  sisanya akan mengalami organisasi, sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk yang lain dapat berbentuk  mola tuberosa; dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi: janin mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap, ia menjadi agak gepeng (fetus kompresus). Dalam tingkat lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus).

Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya maserasi; kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan, dan seluruh janin berwarna kemerah-merahan.

DIAGNOSIS DAN PENANGANAN

Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat; sering terdapat rasa mules. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditemukannnya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan; pembukaan serviks dan adanya jaringan dalam cavum uteri atau vagina.

Sebagai kemungkinan diagnosa lain harus dipikirkan: Kehamilan ektopik terganggu (KET), Mola hidatidosa, Kehamilan dengan kelainan pada serviks.

Karsinoma servisis uteri, polipus serviks, (Tumor ovarium yang mensekresi HCG, membranous dysmenorrhea)5 dapat menyertai kehamilan. Perdarahan dari kelainan tersebut dapat menyerupai abortus. Pemeriksaan dengan speculum, pemeriksaan sitologik dan biopsi dapat menentukan diagnosis dengan pasti.

KLASIFIKASI

Abortus dapat dibagi atas dua golongan:

  • Abortus Spontan
  • Abortus Provokatus (induced abortion), dapat di bagi lagi menjadi:

ü      Abortus Medisinalis / abortus terapeutik 3

Pengakhiran kehamilan sebelum janin menjadi viable dengan tujuan melindungi kesehatan ibu.

ü      Abortus kriminalis / abortus elektif 3

Pengakhiran kehamilan sebelum tercapai viabilitas atas permintaan ibu, tidak berdasarkan gangguan kesehatan ibu ataupun penyakit pada janin.

Secara klinik abortus spontan dapat dibedakan antara lain 1,2 :

a) Abortus Imminens

Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.

Diagnosis abortus imminens ditentukan karena pada wanita hamil terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuanya kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehanilan positif.

Penanganannya:

ü      Tirah Baring.

Karena dapat menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.

ü      Pemberian hormon progesterone, tapi masih belum ada persesuaian faham.

ü      Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih hidup.

b) Abortus Insipiens

Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules jadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertanbah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan.

c)      Abortus inkompletus

Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Perdarahan dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.

Penanganannya atasi syok terlebih dahulu, setelah itu dilakukan kerokan. Pasca tindakan disuntikkan IM Ergometrin untuk mempertahankan kontraksi uterus.

d) Abortus Kompletus

Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil.

Penderita tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila menderita anemia perlu diberi sulfas ferrosus atau transfusi.

e) Abortus servikalis

Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis.

Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.

f) Missed abortion

Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.Etiologinya tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesterone.

Diagnosis. Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi malah mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan USG dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. Terkadang missed abortion disertai pula oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia.

Penanganan, Tindakan pengeluaran janin tergantung dari berbagai factor, seperti apakah telah terjadi hipofibrinogenemia, factor mental si ibu. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari 1 bulan tidak dikeluaarkan.

Apabila diputuskan untuk mengeluarkan hasil konsepsi itu, pada uterus yang besarnya tidak melebihi 12 minggu sebaiknya dilakukan pembukaan serviks uteri dengan memasukkan laminaria selama kira-kira 12 jam dalam kanalis servikalis, yang kemudian dapat diperbesar dengan busi hegar sampai cunam ovum atau jari dapat masuk ke dalam kavum uteri. Setelah hasil konsepsi dikeluarkan dilakukan pembersihan dengan kuret.

Jika besar uterus melebihi kehamilan 12 minggu, maka pengeluaran hasil konsepsi diusahakan dengan infus intravena oksitosin dosis cukup tinggi. Dosis oksitosin dapat dimulai dengan 20 tetes per menit dari cairan 500 ml glukosa 5% dengan 10 satuan oksitosin; dosis ini dapat dinaikkan sampai ada kontraksi. Jika tidak berhasil infus dapat diulangi setelah penderita istirahat 1 hari. Dengan prostaglandin E baik intra vaginal atau infus keberhasilan cukup baik (90%) dalam satu hari.

g) Abortus Habitualis

Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu.

Etiologi abortus habitualis pada dasarnya sama dengan abortus spontan. Selain itu telah ditemukan sebab imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte trophoblast cross reactive (TLX). Sistem TLX ini merupakan cara untuk melindungi kehamilan. Kelainan ini dapat diobati dengan tranfusi leukosit atau heparin. Abortus habitualis yang terjadi dalam triwulan kedua dapat disebabkan oleh serviks uteri yang tidak sanggup terus menutup, melainkan perlahan-lahan membuka (inkompeten).

Diagnosis, Diagnosis tidaklah sukar ditentukan dengan anamnesis. Khususnya diagnosis abortus habitualis karena inkompetensia menunjukkan gambaran klinik yang khas, yaitu dalam kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mules, ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah.Di luar kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalpingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm.

Penanganan. Penyebab abortus habitualis sebagian besar tidak diketahui. Oleh karena itu, penanganannya terdiri atas: memperbaiki keadaan umum, pemberian makanan yang sempurna, anjuran istirahat cukup banyak, larangan koitus dan olahraga.

Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil maka operasi untuk mengecilkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada kehamilan 12 minggu atau lebih sedikit.Dasar operasi ialah memperkuat jaringan serviks yang lemah dengan melingkari daerah ostium uteri internum dengan benang sutera atau dakron yang tebal. Operasi tersebut dapat dilakukan menurut cara Shirodkar atau cara Mac Donald.

h) Abortus infeksiosus, abortus septic

Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedang abortus septic ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Umumnya pada abortus infeksiosus infeksi terbatas pada desidua. Pada abortus septic virulensi bakteri tinggi, dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba, parametrium, dan peritoneum. Bila infeksi menyebar lebih jauh dapat terjadi peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh syok.

Diagnosis. Diagnosis abortus infeksiosus ditentukan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda infeksi alat genital, seperti panas, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar, lembek, serta nyeri tekan, dan leukositosis. Apabila terdapat sepsis, penderita tampak sakit berat, kadang menggigil, demam tinggi dan tekanan darah menurun. Untuk mengetahui kuman penyebab perlu diadakan pembiakan darah getah pada serviks uteri.

Penanganan. Segera beri antibiotik: Gentamycin 3 x 80 mg dan Penicillin 4 x 1,2 juta IU; Chloromycetin 4 x 500 mg; Cephalosporin 3 x 1 gr; Sulbenicillin 3 x 1-2 gr. Bila mengalami banyak perdarahan, hendaknya beri infus dan transfusi darah. Kuretase dilakukan dalam 6 jam dan penanganan ini dapat dipertanggungjawabkan karena pengeluaran sisa-sisa abortus mencegah perdarahan dan menghilangkan jaringan yang nekrotis, yang bertindak sebagai medium pembiakan bagi jasad renik. Pemberian antibiotika diteruskan sampai febris tidak ada lagi selama 2 hari atau ditukar bila tak ada perubahan dalam 2 hari.

Pada abortus septic diperlukan dosis antibiotik yang lebih tinggi. Sambil menunggu hasil biakan dapat diberikan Subenicillin 3 x 2 gr.

Abortus Terapeutik, Indikasi dari abortus terapeutik/medisinalis adalah: 3

1)      Bila kelanjutan kehamilan dapat mengancam jiwa ibu atau menjadi gangguan yang serius bagi kesehatan ibu.

2)      Kalau kehamilan terjadi akibat perkosaan atau perbuatan incest. Pada kasus ini, criteria medis yang sama harus diterapkan dalam pemeriksaan pasien.

3)      Bila kelanjutan kehamilan kemungkinan besar akan menghasilkan persalinan anak dengan deformitas fisik yang berat atau dengan retardasi mental.

TEKNIK ABORTUS

Teknik-teknik untuk melaksanakan Abortus antara lain :

I. Pembedahan

  1. Dilatasi serviks yang diikuti oleh pengosongan isi uterus.

a)      Kuretase

b)      Aspirasi vakum (kuretase dengan penyedotan)

c)      Dilatasi dan evakuasi

2. Laparatomi

a)      Histerotomi

b)      Histerektomi

II. Medis

  • Oksitosin intravena
  • Cairan hiperosmotik intra amnion

a)      Larutan salin 20%

b)      Larutan urea 30%

  • Preparat prostaglandin E2, E2a dan analog prostaglandin

a)      Injeksi intra amnion

b)      Injeksi ekstraovuler

c)      Insersi vagina

d)     Injeksi parenteral

e)      Per oral

  • Berbagai kombinasi tindakan diatas
  • Antiprogesteron RU 486

Beberapa metode-metode abortus dengan pembedahan:

Sebelum umur kehamilan mencapai 8 minggu, biasanya dilakukan aborsi preemtive atau evakuasi uterus dini. Pada kedua prosedur diatas dimasukkanlah tuba yang sempit yang disebut kanul melalui serviks kedalam uterus. Kanul ini dihubungkan ke alat penghisap seperti syringe, lalu isi uterus ditarik keluar.

Aborsi preemtive menggunakan kanul yang lebih sempit dan dilakukan pada kehamilan awal 4 sampai 6 minggu. Evakuasi uterus dini yang menggunakan kanula yang lebih besar dilakukan pada kehamilan 6 sampai 8 minggu.

Ke-2 metode aborsi diatas tidak membutuhkan anestesi dan dapat dilakukan pada klinik atau pada tempat praktek dokter. Prosedur diatas hanya berlangsung selama beberapa menit. Pada aborsi preemtive komplikasi yang sering ditemui adalah infeksi. Evakuasi uterus dini, komplikasinya dapat terjadi perdarahan hebat selama beberapa hari setelah dilakukan prosedur tersebut.

Aspirasi dengan Vacuum adalah suatu prosedur yang digunakan pada aborsi pada kehamilan 6 sampai 16 minggu. Syaratnya serviks harus dilatasi sehingga kanul dapat masuk kedalam uterus. Alat yang digunakan untuk dilatasi serviks disebut juga dilator. Kanula dihubungkan pada suatu pompa bertenaga listrik yang dapat mengeluarkan isi dari uterus. Pada beberapa kasus, tepi dari uterus dapat juga dikerok dengan alat seperti sendok yang disebut kuret, untuk menghilangkan dan mengeluarkan jaringan. Prosedur ini disebut juga Kurettage. Aspirasi vaccum membutuhkan anestesi local dan dapat dikerjakan pada tempat praktek dokter.

Lecet atau erosi pada serviks dapat terjadi ketika kanul tersebut dimasukkan kedalam uterus.

Dilatasi dan Kuret dilakukan pada kehamilan 6 sampai 16 minggu prosedur ini dengan cara dilatasi serviks lalu mengerok tepi uterus dengan kuret untuk mengeluarkan isinya. Prosedur ini membutuhkan anestesi umum dan harus dilakukan di rumah sakit besar. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah reaksi terhadap anestesi dan luka pada serviks. Sejak berkembangnya aspirasi vaccum, metode dilatasi dan kuret tidak lagi digunakan. Setelah kehamilan 16 minggu aborsi lebih sulit dilakukan. Suatu metode yang dapat digunakan adalah dilatasi dan evakuasi. Yang membutuhkan dilatasi serviks yang lebih besar dari pada metode yang lain. Membutuhkan suction, kuret yang besar dan forcep untuk mengeluarkan janin.

Prosedur ini rumit karena ukuran janin yang besar dan dinding uterus yang lebih tipis dimana dapat menyebabkan peregangan pada janin yang sudah berkembang.

Perdarahan uterus sering terjadi, metode ini harus dilakukan dibawah anestesi umum. Metode ini biasanya digunakan pada minggu pertama pada trimester ke-2 juga dapat digunakan sampai umur kehamilan 24 minggu.

Aborsi yang diinduksi dapat dilakukan pada trimester ke-2 biasanya antara 16 sampai 24 minggu. Pada metode ini dilakukan pengeluaran cairan dan digantikan dengan yang lain, tetapi tidak seluruhnya. Lalu kurang lebih 24 sampai 48 jam kemudian, uterus mulai berkontraksi dan janin mulai dikeluarkan. Metode ini pertama kali berkembang dokter-dokter menggunakan cairan yang hiperosmolar seperti salin untuk mengeluarkan janin. Sekarang ini mereka menggunakan larutan yang mengandung prostaglandin dan pitosin. Perdarahan yang hebat, infeksi dan luka pada serviks dapat terjadi prosedur ini dilakukan pada rumah sakit yang membutuhkan rawat inap 1 hari atau lebih.  Aborsi-aborsi yang dilakukan pada trimester ke-2 akhir dan selama trimester ke-3 membutuhkan pembedahan yang besar. Antara lain Histerotomi dan intact dilatasi dan ekstraksi.

Pada histerotomi uterus dibuka dan fetus dikeluarkan  sama seperti melakukan SC, tapi histerotomi ini insisinya lebih kecil dari pada SC. Histerotomi adalah suatu pembedahan abdominal yang besar dilakukan dibawah anestesi umum.

KOMPLIKASI

a) Perdarahan

Diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.

b) Perforasi

Terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Bila terjadi segera lakukan laparatomi dan jahit luka perforasi, kalau perlu histerektomi.

c) Infeksi

d) Syok

Dapat syok hemoragik atau syok endoseptik

PENANGANAN LANJUTAN

Setelah abortus pasien perlu diperiksa penyebab abortus. Perlu diperhatikan involusi uterus dan kadar HCG 1-2 bulan kemudian. Pasien diharapkan tidak hamil dalam waktu 3 bulan.

About these ads

One Response to “ABORTUS”

  1. tolong bantuan y..cwe ak sudah 2 blan
    kami sudah cba dgn cytotex,gneceoid,nanas muda,m,kapsul tpi belum berhasil
    cwe ak sudah tidak mual lagi,ap janin sudah mati?
    rencna kami ingin usg untuk mengetahui keadaan janin,,untuk selanjut y dikuretase
    dimn kami bisa kuretase secara mudah?
    dan berapa biaya y?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: