Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

VERTIGO


Definisi

Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga terapi lebih banyak bersifat simtomatik dan rehabilitatif

Pusing (dizziness) adalah keluhan subjektif yang paling sering ditemui. Banyak sekali ditemukan penyakit yang memberi gejala pusing. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menelusuri dengan rinci, pusing seperti apa yang dimaksud oleh pasien. Vertigo, misalnya. Sesuai asal katanya dari bahasa Latin vertere yang berarti memutar, maka pusing pada vertigo lebih mengarah pada sensasi atau ilusi dari suatu gerakan berputar. Entah, orang itu merasa ruangan di sekitarnya berputar atau dirinya yang memutari ruangan tersebut. Tak jarang pula, vertigo disertai rasa mual, muntah, atau keringat dingin.

Penyakit ini tak kalah pamor dibandingkan penyakit neurologi lainnya. Hal itu dibuktikan dengan “keberhasilannya” menduduki peringkat ketiga sebagai keluhan terbanyak setelah nyeri kepala (migrain) dan low back pain. Menurut dr Abdulbar Hamid, SpS dalam presentasinya di The 3rd Updates in Neuroemergencies Maret 2006, vertigo menjadi momok pada 50% orang tua berusia sekitar 70 tahun di Amerika karena mereka takut terjatuh akibat serangan vertigonya.

Mengenal Sistem Keseimbangan

Asal terjadinya vertigo dikarenakan adanya gangguan pada sistem keseimbangan tubuh. Bisa berupa trauma, infeksi, keganasan, metabolik, toksik, vaskular, atau autoimun. Sistem keseimbangan tubuh kita dibagi menjadi 2 yaitu sistem vestibular (pusat dan perifer) serta non vestibular (visual [retina, otot bola mata], dan somatokinetik [kulit, sendi, otot]).

Sistem vestibular sentral terletak pada batang otak, serebelum dan serebrum. Sebaliknya, sistem vestibular perifer meliputi labirin dan saraf vestibular. Labirin tersusun dari 3 kanalis semisirkularis dan otolit (sakulus dan utrikulus) yang berperan sebagai reseptor sensori keseimbangan, serta koklea sebagai reseptor sensori pendengaran. Sementara itu, krista pada kanalis semisirkularis mengatur akselerasi angular, seperti gerakan berputar, sedangkan makula pada otolit mengatur akselerasi linear.

Segala input yang diterima oleh sistem vestibular akan diolah. Kemudian, diteruskan ke sistem visual dan somatokinetik untuk merespon informasi tersebut. Gejala yang timbul akibat gangguan pada komponen sistem keseimbangan tubuh itu berbeda-beda.

[Tabel 1 dan 2]

Tabel 1. Perbedaan Vertigo Vestibular dan Non Vestibular
Gejala Vertigo Vestibular Vertigo Non Vestibular
Sifat vertigo

Serangan

Mual/muntah

Gangguan pendengaran

Gerakan pencetus

Situasi pencetus

rasa berputar

episodik

+

+/-

gerakan kepala

-

melayang, hilang keseimbangan

kontinu

-

-

gerakan obyek visual

keramaian, lalu lintas

Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibular Perifer dan Sentral
Gejala Vertigo Vestibular Perifer Vertigo Vestibular Sentral
Bangkitan vertigo

Derajat vertigo

Pengaruh gerakan kepala

Gejala otonom (mual, muntah, keringat)

Gangguan pendengaran (tinitus, tuli)

Tanda fokal otak

lebih mendadak

berat

++

++

+

-

lebih lambat

ringan

+/-

+

-

+

Klasifikasi

Berdasarkan awitan serangan, vertigo dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu paroksismal, kronik, dan akut. Serangan pada vertigo paroksismal terjadi mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, lalu menghilang sempurna. Suatu saat serangan itu dapat muncul lagi. Namun diantara serangan, pasien sama sekali tidak merasakan gejala. Lain halnya dengan vertigo kronis. Dikatakan kronis karena serangannya menetap lama dan intensitasnya konstan. Pada vertigo akut, serangannya mendadak, intensitasnya perlahan berkurang namun pasien tidak pernah mengalami periode bebas sempurna dari keluhan. Demikian papar Abdulbar. [Tabel 3]

Jenis Vertigo Berdasarkan Awitan Serangan Disertai Keluhan Telinga Tidak Disertai Keluhan Telinga Timbul Karena Perubahan Posisi
Vertigo paroksismal Penyakit Meniere, tumor fossa cranii posterior, transient ischemic attack (TIA) arteri vertebralis TIA arteri vertebro-basilaris, epilepsi, vertigo akibat lesi lambung Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV)
Vertigo kronis Otitis media kronis, meningitis tuberkulosa, tumor serebelo-pontine, lesi labirin akibat zat ototoksik Kontusio serebri, sindroma paska komosio, multiple sklerosis, intoksikasi obat-obatan Hipotensi ortostatik, vertigo servikalis
Vertigo akut Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirinitis akuta, perdarahan labirin Neuronitis vestibularis, ensefalitis vestibularis, multipel sklerosis -

Pemeriksaan Fisis dan Neurologis

Pemeriksaan fisis dasar dan neurologis sangat penting untuk membantu menegakkan diagnosis vertigo. Pemeriksaan fisis dasar yang terutama adalah menilai perbedaan besar tekanan darah pada perubahan posisi. Secara garis besar, pemeriksaan neurologis dilakukan untuk menilai fungsi vestibular, saraf kranial, dan motorik-sensorik.

Sistem vestibular dapat dinilai dengan tes Romberg, tandem gait test, uji jalan di tempat (fukuda test) atau berdiri dengan satu atau dua kaki. Uji-uji ini biasanya berguna untuk menilai stabilitas postural jika mata ditutup atau dibuka. Sensitivitas uji-uji ini dapat ditingkatkan dengan teknik-teknik tertentu seperti melakukan tes Romberg dengan berdiri di alas foam yang liat.

Pemeriksaan saraf kranial I dapat dibantu dengan funduskopi untuk melihat ada tidaknya papiledema atau atrofi optik. Saraf kranial III, IV dan VI ditujukan untuk menilai pergerakan bola mata. Saraf kranial V untuk refleks kornea dan VII untuk pergerakan wajah. Fungsi serebelum tidak boleh luput dari pemeriksaan. Untuk menguji fungsi serebelum dapat dilakukan past pointing dan diadokokinesia.

Pergerakan (range of motion) leher perlu diperhatikan untuk menilai rigiditas atau spasme dari otot leher. Pemeriksaan telinga ditekankan pada pencarian adanya proses infeksi atau inflamasi pada telinga luar atau tengah. Sementara itu, uji pendengaran diperiksa dengan garputala dan tes berbisik.

Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai pergerakan mata seperti adakah nistagmus spontan atau gaze-evoked nystagmus dan atau pergerakan abnormal bola mata. Penting untuk membedakan apakah nistagmus yang terjadi perifer atau sentral. Nistagmus sentral biasanya hanya vertikal atau horizontal saja dan dapat terlihat dengan fiksasi visual. Nistagmus perifer dapat berputar atau rotasional dan dapat terlihat dengan memindahkan fiksasi visual. Timbulnya nistagmus dan gejala lain setelah pergerakan kepala yang cepat, menandakan adanya input vestibular yang asimetris, biasanya sekunder akibat neuronitis vestibular yang tidak terkompensasi atau penyakit Meniere.

Uji fungsi motorik juga harus dilakukan antara lain dengan cara pasien menekuk lengannya di depan dada lalu pemeriksa menariknya dan tahan hingga hitungan ke sepuluh lalu pemeriksa melepasnya dengan tiba-tiba dan lihat apakah pasien dapat menahan lengannya atau tidak. Pasien dengan gangguan perifer dan sentral tidak dapat menghentikan lengannya dengan cepat. Tetapi uji ini kualitatif dan tergantung pada subjektifitas pemeriksa, kondisi muskuloskeletal pasien dan kerjasama pasien itu sendiri.

Pemeriksaan khusus neuro-otologi yang umum dilakukan adalah uji Dix-Hallpike dan electronystagmography (ENG). Uji ENG terdiri dari gerak sakadik, nistagmus posisional, nistagmus akibat gerakan kepala, positioning nystagmus, dan uji kalori.

Pada dasarnya pemeriksaan penunjang tidak menjadi hal mutlak pada vertigo. Namun pada beberapa kasus memang diperlukan. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap dapat memberitahu ada tidaknya proses infeksi. Profil lipid dan hemostasis dapat membantu kita untuk menduga iskemia. Foto rontgen, CT-scan, atau MRI dapat digunakan untuk mendeteksi kehadiran neoplasma/tumor. Arteriografi untuk menilai sirkulasi vertebrobasilar.

Penatalaksanaan

Tatalaksana vertigo terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu kausal, simtomatik dan rehabilitatif. Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga terapi lebih banyak bersifat simtomatik dan rehabilitatif.

Terapi simtomatik bertujuan meminimalkan 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala otonom. Untuk mencapai tujuan itu digunakanlah vestibular suppresant dan antiemetik. Beberapa obat yang tergolong vestibular suppresant adalah antikolinergik, antihistamin, benzodiazepin, calcium channel blocker, fenotiazin, dan histaminik. [Tabel 4]

Antikolinergik bekerja dengan cara mempengaruhi reseptor muskarinik. Antikolinergik yang dipilih harus mampu menembus sawar darah otak (sentral). Idealnya, antikolinergik harus bersifat spesifik terhadap reseptor vestibular agar efek sampingnya tidak terlalu berat. Sayangnya, belum ada.

Benzodiazepin termasuk modulator GABA yang bekerja secara sentral untuk mensupresi repson dari vestibular. Pada dosis kecil, obat ini bermanfaat dalam pengobatan vertigo. Efek samping yang dapat segera timbul adalah terganggunya memori, mengurangi keseimbangan, dan merusak keseimbangan dari kerja vestibular.

Antiemetik digunakan untuk mengontrol rasa mual. Bentuk yang dipilih tergantung keadaan pasien. Oral untuk rasa mual ringan, supositoria untuk muntah hebat atau atoni lambung, dan suntikan intravena pada kasus gawat darurat. Contoh antiemetik adalah metoklorpramid 10 mg oral atau IM dan ondansetron 4-8 mg oral.

Terapi rehabilitasi bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibular. Mekanisme kerja terapi ini adalah substitusi sentral oleh sistem visual dan somatosensorik untuk fungsi vestibular yang terganggu, mengaktifkan kendali tonus inti vestibular oleh serebelum, sistem visual dan somatosensorik, serta menimbulkan habituasi, yaitu berkurangnya respon terhadap stimulasi sensorik yang diberikan berulang-ulang.

Tabel 4. Terapi Obat Antivertigo
Golongan Dosis oral Antiemetik Sedasi Mukosa Kering Ekstrapiramidal
Flunarisin

Sinarizin

Prometasin

Difenhidrinat

Skopolamin

Atropin

Amfetamin

Efedrin

Proklorperasin

Klorpromasin

Diazepam

Haloperidol

Betahistin

Carvedilol

Karbamazepin

Dilantin

1×5-10 mg

3×25 mg

3×25-50 mg

3×50 mg

3×0,6 mg

3×0,4 mg

3×5-10 mg

3×25 mg

3×3 mg

3×25 mg

3×2-5 mg

3×0,5-2 mg

3×8 mg

Sedang diteliti

3×200 mg

3×100 mg

+

+

+

+

+

+

+

+

+++

++

+

++

+

-

-

-

+

+

++

+

+

-

-

-

+

+++

+++

+++

+

-

+

-

-

-

++

+

+++

+++

+

+

+

+

-

+

-

-

-

-

+

+

-

-

-

-

+

-

++

+++

-

++

+

-

-

-

BPPV

Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo vestibular perifer yang paling sering ditemui, kira-kira 107 kasus per 100.000 penduduk, dan lebih banyak pada perempuan serta usia tua (51-57 tahun). Jarang ditemukan pada orang berusia dibawah 35 tahun yang tidak memiliki riwayat cedera kepala.

Dari namanya, jelas bahwa vertigo ini diakibatkan perubahan posisi kepala seperti saat berguling di tempat tidur, membungkuk, atau menengadah ke atas. Mekanisme pasti terjadinya BPPV masih samar. Tapi penyebabnya sudah diketahui pasti yaitu debris yang terdapat pada kanalis semisirkularis biasanya pada kanalis posterior. Debris berupa kristal kalsium karbonat itu dalam keadaan normal tidak ada. Diduga debris itu menyebabkan perubahan tekanan endolimfe dan defleksi kupula sehingga timbul gejala vertigo.

Salah satu cara yang sangat mudah dikerjakan untuk mendiagnosis BPPV adalah uji Dix-Hallpike, yaitu dengan menggerakkan kepala pasien dengan cepat ke kanan, kiri dan kembali ke tengah. Uji itu dapat membedakan lesi perifer atau sentral. Pada lesi perifer, dalam hal ini positif BPPV, didapatkan vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, menghilang dalam waktu kurang dari 1 menit, berkurang dan menghilang bila uji diulang beberapa kali (fatigue). Berbeda dengan lesi sentral, periode laten tidak ditemukan, vertigo dan nistagmus berlangsung lebih dari 1 menit, dan bila diulang gejala tetap ada (non fatigue).

Obat tidak diberikan secara rutin pada BPPV. Malah cenderung dihindari karena penggunaan obat vestibular suppresant yang berkepanjangan hingga lebih dari 2 minggu dapat mengganggu mekanisme adaptasi susunan saraf pusat terhadap abnormalitas vestibular perifer yang sudah terjadi. Selain itu, efek samping yang timbul berupa ngantuk, letargi, dan perburukan keseimbangan.

Tanpa obat bukan berarti tidak ada terapi untuk mengurangi gejala vertigo pada BPPV. Adalah manuver Epley yang disinyalir merupakan terapi yang aman dan efektif. Manuver ini bertujuan untuk mengembalikan debris dari kanalis semisirkularis posterior ke vestibular labirin. Angka keberhasilan manuver Epley dapat mencapai 100% bila dilatih secara berkesinambungan. Bahkan, uji Dix-Hallpike yang semula positif menjadi negatif. Angka rekurensi ditemukan 15% dalam 1 tahun. Meski dibilang aman, tetap saja ada keadaan tertentu yang menjadi kontraindikasi melaksanakan manuver ini yaitu stenosis karotid berat, unstable angina, dan gangguan leher seperti spondilosis servikal dengan mielopati atau reumatoid artritis berat.

Setelah melakukan manuver Epley, pasien disarankan untuk tetap tegak lurus selama 24 jam untuk mencegah kemungkinan debris kembali lagi ke kanal semisirkularis posterior. Bila pasien tidak ada perbaikan dengan manuver Epley dan medikamentosa, pembedahan dipertimbangkan.

Penyakit Meniere

Contoh lain dari vertigo vestibular tipe perifer adalah penyakit Meniere (Meniere disease) atau hidrops endolimfatik. Penyakit ini lebih “memilih” orang kulit putih. Di Inggris, prevalensinya sebesar 1 per 1000 penduduk. Laki-laki atau perempuan mempunyai risiko yang sama. Bisa terjadi pada anak-anak namun paling sering antara usia 20-50 tahun.

Pada penyakit ini terjadi gangguan filtrasi endolimfatik dan ekskresi pada telinga dalam, menyebabkan peregangan pada kompartemen endolimfatik.

Penyebabnya multifaktor. Dari kelainan anatomi, genetik (autosom dominan), virus, autoimun, vaskular, metabolik, hingga gangguan psikologis.

Gejala penyakit Meniere lebih berat daripada BPPV. Selain vertigo, biasanya pasien juga mengalami keluhan di telinga berupa tinitus, tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah, dan sensasi rasa penuh di telinga. Ada 3 tingkat derajat keparahan penyakit Meniere.

  • Derajat I :  gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan vagal seperti pucat dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa jam. Diantara serangan, pasien sama sekali normal.
  • Derajat II : gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul gejala tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah.
  • Derajat III : gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif memburuk. Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami tuli total. Vertigo mulai berkurang atau menghilang.

Obat-obatan seperti proklorperasin, sinnarizin, prometasin, dan diazepam berguna untuk menekan gejala. Akan tetapi, pemakaian proklorperasin jangka panjang tidak dianjurkan karena menimbulkan efek samping ekstrapiramidal dan terkadang efek sedasinya kurang dapat ditoleransi, khususnya kaum lansia.

Intervensi lain berupa diet rendah garam (<1-2 gram per hari) dan diuretik seperti furosemid, amilorid, dan hidroklorotiazid. Namun, kurang efektif menghilangkan gejala tuli dan tinitus.

Terapi ablasi sel rambut vestibular dengan injeksi intratimpani gentamisin juga efektif. Keuntungan injeksi intratimpani daripada sistemik adalah mencegah efek toksik berupa toksisitas koklea, ataxia, dan oscillopsia.

Pada kasus jarang dimana penyakit sudah kebal dengan terapi obat, diet dan diuretik, pasien terpaksa harus memilih intervensi bedah, misalnya endolimfatik shunt atau kokleosakulotomi.

Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe perifer umumnya baik, dapat terjadi remisi sempurna. Sebaliknya pada tipe sentral, prognosis tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Infark arteri basilar atau vertebral, misalnya, menandakan prognosis yang buruk. Semoga dengan kemajuan ilmu bedah saraf di masa yang akan datang, vertigo tak lagi menjadi momok.

About these ads

17 Responses to “VERTIGO”

  1. usia saya saat ini 26th, saya berkacamata minus kanan 4, kiri 8, keduanya silinder 2.
    pada awal serangan vertigo, saya merasa berputar, mual, dan keringat dingin (selama +/- 1minggu). selanjutnya saya merasa kehilangan keseimbangan pada saat saat tertentu (mis. menoleh ke kiri scr mendadak, posisi kepala menunduk). sudah 1bln ini namun saya belum pernah periksa ke dokter ataupun CTscan/MRI (terkendala finansial).
    yg ingin saya tanyakan termasuk dlm kategori apa vertigo yg saya alami ini
    adakah pengobatan selain hrs ke dokter?
    sebelum’nya saya mengucapkan banyak terimakasih

  2. usia saya saat ini 26th, saya berkacamata minus kanan 4, kiri 8, keduanya silinder 2.
    pada awal serangan vertigo, saya merasa berputar, mual, dan keringat dingin (selama +/- 1minggu). selanjutnya saya merasa kehilangan keseimbangan pada saat saat tertentu (mis. menoleh ke kiri scr mendadak, posisi kepala menunduk). sudah 1bln ini namun saya belum pernah periksa ke dokter ataupun CTscan/MRI (terkendala finansial).
    yg ingin saya tanyakan termasuk dlm kategori apa vertigo yg saya alami ini
    adakah pengobatan selain hrs ke dokter?
    sebelum’nya saya mengucapkan banyak terimakasih

  3. Siang.
    Nama sya nita, saya mau tanya jika vertigo itu dah brtahun-tahun itu bisa timbul penyakit baru ga’?

  4. Hari Selasa Malam, 14 Mei 2013, jam 22.00 merupakan saat pertama saya merasakan gejala-gejala pusing yang untuk pertama kalinya saya rasakan dalam hidup saya. Pusing terjadi ketika saya hendak meletakkan kepala di bantal untuk berbaring. Segera setelah kepala menyentuh bantal saya merasa bergoyang dan seperti akan kehilangan kesadaran (seperti melayang ditarik ke bawah). Kemudian ketika saya menggerakkan tubuh bagian atas untuk mencoba bangun, saya kembali merasa seperti bergoyang dan ditarik ke bawah. Kemudian saya baring lagi, dan ketika saya mencoba untuk bangun kedua kalinya tetap ada rasa pusing (sensasi bergoyang, seperti mau jauh dan ditarik ke bawah). Saya memang kurang cukup tidur dan mempunyai tingkat stress rata-rata yang tinggi (diatas normal) dalam beberapa hari terakhir, tetapi momen pada saat kejadian ini saya rasakan, tingkat stress saya sebenarnya sudah mulai mereda. Tekanan darah yang saya ukur dan kemudian isteri saya (seorang dokter gigi) ukur keesokan harinya adalah: 138, 90, 135/92, 130/90, 135/85, 130/90, 130/80, atau dengan kata lain ada variasi 5-10 poin dalam diastole dalam rentang pengukuran 3 menit (3 kali tensi selama 3 menit, total 6 kali tensi).
    Episode pusing tersebut terjadi sebanyak 3x dan hanya berlangsung sesaat (1-2 detik) yaitu ketika ada perubahan posisi kepala (pertama, segera setelah kepala terbaring horizontal, kedua, ketika sementara berbaring menoleh ke kanan dan ketiga, ketika mau bangun). Saya menjadi cemas, berkeringat dingin dan palpitasi, sehingga hanya berbaring saja selama sekitar 45 menit. Kemudian mulai bergerak bangun secara perlahan dengan cara memutar badan (kepala).

    Episode Serangan Kedua terjadi pada Selasa Malam, sekitar jam 22.00, tanggal 4 Juni 2013 dengan Simptoms yang agak lebih ringan dari serangan vertigo pertama 14 Mei. Gejala-gejala saya rasakan pertama kali ketika baru meletakkan kepala di bantal (mau berbaring) dan pada saat menoleh ke arah kanan, dan juga ketika bangkit dari tidur. Episode serangan kedua ini tetap timbul apabila terjadi perubahan drastis posisi kepala walalupun dengan intensitas yang lebih ringan daripada serangan pertama selama beberapa hari. Dan menurut pengamatan saya, jenis vertigo yang saya alami adalah bisa kedua-duanya, vertigo obyektif dan vertigo subyektif . Dalam pengukuran tekanan darah, saya menemukan bahwa tekanan darah saya relatif cukup normal, berkisar 140/90, 130/85, 125/80.

    ——————————————————————-
    Pak dokter yang baik, dari riwayat yang dipaparkan di atas ini, apakah Anda bisa menyimpulkan bahwa saya terkena BPPV?

    Terima kasih yang sebesar-besarnya atas artikel anda yang komprehensip dan mendetail. Tuhan memberkati.

  5. Halo dr saya divonis vertigo BPPv usia 32 thn,tp klo sakit kepala atau kurang tidur vertigonya bs kambuh,apa bisa begitu Dok?thanks

  6. Awalnya suami saya merasakan sakit kepala yg tak tertahankan,kami sudah ke dokter saraf,dokter spesialis ahli dalam dan 2 kali ke dokter mata.pada saat ke dokter mata yg pertama suami saya di kasih kaca mata,obat tetes mata dan vitamin.tetapi hasilnya sama saja.beberapa hari kemudian suami saya merasakan gelap.akhirnya kami membawanya ke dokter mata yg kedua.dokter mengatakan saraf mata suami saya rusak.tetapi sekarang ini sesekali suami saya dapat melihat tetapihanya sekejap saja setelah itu gelap kembali.adakah pengobatan untuk suami saya ?.oh iya pada hasil USG suami saya ketahuan dia ada gangguan di lever,gasitis dan luka pada ulkus.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.terima kasih.

    • terima kasih atas kunjungan ibu ke blog saya. m3lihat sudah banyaknya ibu berobat ke dokter-dokter spesialis, mungkin saran yang bisa saya berikan adalah agar ibu melakukan pemeriksaan ct scan kepala suami ibu, untuk melihat apakah ada gangguan di otak atau tidak?

  7. carvedilol side effects…

    […]VERTIGO « Welcome To My Blog[…]…

  8. as. alakum wbrkatu. saya divonis dokter nyeri sarap pindah -pindah vertigo dizziness dan nyeri vaskuler sy sdah alami sdh i9 tahun dan sy berpa kali kedokter tapi tdk ada perubahan yg saya rasakan pusing perasaan ingin pingsan mual, dan nyeri berdenyut pindah- pindah dan perasan tebal kadang -kadang dipipi, pelipis, kepala,dan ada trus tiap hari tdk perna hilang yg ingin sy tanyakan apakah saya masih bisa disembuhkan mohon jawabanx . thanks..????

    • vertigo dpt disembuhkan secara total dengan menghilangkan penyebabnya, karena vertigo sendiri sebenarnya adalah sebuah gejala dari suatu penyakit, jadi jika kita ingin menyembuhkan vertigo maka kita harus menyembuhkan penyakitnya. seperti ditulis dalam artikel saya, bahwa vertigo itu ada 2 tipe sentral dan perifer. pada vertigo sentra gangguan terjadi pada otak seperti adanya sumbatan atau tumor. sedangkan pada vertigo perifer gangguan biasa nya dari mata atau pada telinga (seperti pada meniere syndrom). nah utk mengobati vertigo sampai sembuh tersebut harus diketahui asal muasal penyakitnya dulu

  9. apakah rasa senut2 pada bag kepala bag temporal sinistra dan posterior dextra yang kadang pindah2 termasuk vertigo.? usia 26 tahun. saya juga sedikit mengalami gangguan vestibuler bila berjalan jauh atau mulai lelah. saya juga sudah minum ponstan rasa sakit saya menghilang tapi saya terkadang masih mengalami gangguan vestibuler.

    • vertigo disebabkan karena gangguan sistem vestibuler yg terdapat dalam telinga bagian dalam yang menyebabkan sensasi seperti berputar jadi bila sakit kepala nya berpindah-pindah itu berarti bukan vertigo, mgkn ada penyebab lain, seperti migren dll. bila anda mudah lelah belum tentu disebabkan oleh vertigo, tp mgkn disebabkan penyakit lain spt diabetes dll. ponstan tidak dapat menghilangkan vertigo, ponstan hanya menghilangkan rasa sakit, tp untuk menghilangkan vertigo harus menggunakan obat anti vertigo spt betahistine mesilat atau flunarizine

  10. trims atas informasinya yg sangat berguna. Tapi apakah obat anti vertigo bisa menyembuhkan? atau hanya untuk meredakan pusing/gangguan keseimbangan saja.

    • vertigo itu disebabkan gangguan pada sistem vestibuler (keseimbangan pada manusia), jadi obat-obat vertigo itu hanya meredakan saja, selama terjadi gangguan pada sistem vestibuler maka akan menyebabkan vertigo (dapat berbeda pada tiap orang)

  11. Apa ya obt yg cocok buat vertigo non vestibular, dan apa bner vertigo itu mempengaruhi mata dan pkiran jd ga kuat bnyk berfkr.

  12. thanks a lot yaaaa :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: