Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

KEJANG DEMAM


Definisi

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C)yang disebabkan oleh suatu proses ekstracranium.

Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering ditemukan pada anak.terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.Hampir 3 % anak dibawah umur 5 tahun pernah menderitanya.Terjadinya bangkitan kejang demam tergantung kepada umur, tinggi serta cepatnya suhu meningkat ( Wegman 1993, Pricard Dan Mc Greal 1958 ), termasuk juga faktor hereditas juga mempunyai peranan. Lennox-Buchtal (1971) berpendapat bahwa kepekaan terhadap bangkitan kejang demam diturunkan oleh sebuah gen dominant dengan penetrasi yang tidak sempurna. Lennox (1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada anak normal hanya 3%.

Patofisiologi

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa, glukosa melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.

Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik.Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium ( K+ ) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium ( Na+ ) dan elektrolit lain ,kecuali ion klorida ( Cl- ).Akibatnya kadar ion kalium dalam sel lebih banyak dari diluar sel dan konsentrasi natrium rendah, sedangkan konsentrasi diluar sel sebaliknya.

Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron.Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP ase yang terdapat pada permukaan sel .

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh adanya :

  1. Perubahan konsetrasi ion diruangan ektraselular.
  2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau listrik dari sekitarnya.
  3. perubahan patofisiologis dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

pada keadaan demam kenaikan suhu 10 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% – 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan  bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 380 C sedangkan pada anak dengan ambang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400 C atau lebih. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang lebih rendah sehingga dalam penanggulangannnya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.

Kejang demam yang umumnya berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatkan kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hiposekmia, hiperkapnia, asidosis laktat, disebakan metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang semakin meningkat yang disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meiningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak

Klasifikasi Kejang Demam

Livingston ( 1954, 1963 ) membuat kreteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu  :

  1. Kejang demam sederhana/ benigna : tidak ditemukan dasar kelainan diotak.
  2. Kejang demam komplek/maligna atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam :

Diduga mempunyai suatu dasar kelainan di otak

Manifestasi Klinik

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik.Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit akan terbangun dan sadar kembali tampa adanya kelainan syaraf3.

Di Sub Bagian Saraf Anak  Bagian IKA FKUI – RSCM jakarta, kreteria livingston tersebut telah dirubah/ dimodifikasi yang dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana ialah :

  1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
  2. Kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit
  3. Kejang bersifat umum
  4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
  5. Pemeriksaan syaraf sebelum dan sesudah kejang normal
  6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukan kelainan
  7. Frekwensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kreteria modifikasi livingston diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam.

Kreteria lain yang lebih sederhana adalah  : kejang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple, ( lebih dari 1 kali kejang pada satu episode panas ).

Diagnosis banding

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu didalam atau diluar susunan syaraf pusat ( otak ). Kelainan didalam otak biasanya karena infeksi misalnya meningitis, ensepalitis, abses otak Dll. Oleh sebab itu perlu waspada untuk menyikirkan dulu apakah ada kelaina organis diotak atau tidak, Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam.

Permeriksaan penunjang

  • Pungsi lumbal : Perlu dilakukan pada anak yang baru pertama kali mengalami

Kejang demam, umur < 2 th, untuk menyikirkan adanya infeksi ssp.

  • EEG : Masih kontroversi karena manfaat untuk pengolahan sangat sedikit

Prognosis

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosis baik dan tak perlu menyebabkan kematian. Dari penelitian yang ada , frekwensi terulangnya kejang berkisar antara 25% – 50% yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.

Resiko yang akan dihadapi seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor :

  1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
  2. Kelainan dalam perkembangan atau kelaina syaraf sebelum anak menderita kejang demam
  3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal

Bila terdapat paliang sedikit 2 dari 3 faktor tersebut diatas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tampa demam sekitar 13%,dibandingkan bila hanya ada satu atau tidak sama sekali faktor tersebut diatas, serangan kejang tampa demam terjadi hanya 2 – 3 % saja ( “ Consensus Statement on Fibrile Seizure, 1981 “ )

Penyulit Kejang Demam

* Kelainan neurologik ( hemiparesis )

* Rekurensi ( berulangnya kejang demam )

* Epilepsi

* Retradasi mental

Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama ( berlangsung lebih dari setengah jam ) baik bersifat umum atau fokal.Kelumpuhanya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi.Apabila kejang demam di ikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam , retardasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar ( Nelson dan Ellenberg 1978 )3

Tata Laksana

Pada tata laksana kejang demam ada 3 hal yang perludikerjakan,yaitu:

  1. Pengobatan fase akut
  2. Mencari dan mengobati penyebab
  3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Pengobatan fase akut

Pada waktu pasien sedang kejang, semua pakaian yang ketat dibuka, dan pasien dimiringkan apabila muntah untuk mencegah aspirasi. Jalan napas harus bebas agar oksigenasi tetap terjamin. Pengisapan lendir dilakukan secara teratur, diberikan oksigen, kalau perlu dilakukan intubasi. Awasi keadaan vital seperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian antipiretik. Diazepam adalah pilihan utama dengan pemberian secara intravena atau intrarektal.

Mencari dan Mengobati penyebab

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian  kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama. Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas, sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, dan dianjurkan pada pasien berumur kurang dari 18 bulan.

Pengobatan Profilaksis

Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena menakutkan dan bila sering berulang menyebabkan kerusakan otak yang menetap.

Ada 2 cara profilaksis,yaitu:

  1. Profilaksis intermittent pada waktu demam
  2. Profilaksis terus-menerus dengan anti konvulsan tiap hari

Profilaksis intermittent

Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan ketentuan orang tua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya demam pada pasien. Obat yang diberikan harus cepat diabsorbsi dan cepat masuk ke otak. Hal yang demikian sebenarnya sukar dipenuhi. Peneliti-peneliti sekarang tidak mendapat hasil dengan fenobarbilal intermittent. Diazepam intermittent memberikan hasil lebih baik karena penyerapannya lebih cepat. Dapat digunakan diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10mg untukn pasien dengan berat badan lebihdari 10 kg, setiap pasien menunjukkan suhu 38,5˚C atau lebih. Diazepam dapat pula diberikan secara oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis pada waktu pasien demam. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.

Profilaksis terus-menerus dengan anti konvulsan tiap hari

Pemberian fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dengan kadar darah sebesar 16ug/ml dalam darah yang menunjukkan hasil yang bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam. Efek samping fenobarbital berupa kelainan watak yaitu iritabel,hiperaktif, pemarah dan agresif ditemukan pada 30-50% pasien.Efek samping dapat dikurangi dengan menurunkan dosis fenobarbital.

Obat lain yang dapat digunakan untuk profilaksis kejangg demam ialah Asam valproat yang sama atau bahkan  lebih baik dibandingkan fenobarbital tetapi kadang-kadang menunjukkan efek samping hepatotoksik. Dosis valproat adalah 15-40 mg/kgBB/hari. Valproat tidak menyebabkan kelainan watak. Fenitoin dan carbamazepin tidak efektif untuk pencegahan kejang demam. Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tetapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy di kemudian hari.

Menurut Livingston semua pasien epilepsy diprovokasi oleh demam diberikan pengobatan fenobarbital selama 3 tahun bebas kejang. Indikasi ini sudah banyak ditinggalkan dan indikasi profilaksis terus-menerus pada saat ini adalah:

1        Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan

2        Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung

3        Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan neurologist sementara atau menetap

4        Dapat dipertimbangkan pemberian profilaksis bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam

Antikonvulsan profilaksis terus-menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

Penanggulangan1,3

1. Penderita datang dalam keadaan kejang

a. Berikan valium pertama secara intra vena:

- Jika BB < 10 Kg : 0,5 – 0,75 Mg/KgBB, Minimal 2,5 Mg

- Jika BB 10 – 20 Kg : 0,5 Mg/KgBB, Minimal 7,5 Mg

- Jika BB > 20 Kg : 0.5 Mg/KgBB

b. Tunggu 15 sampai 20 menit, bila masih kejang berikan lagi valium

kedua dengan dosis sama secara IV

c. Tunggu 15 sampai 20 menit lagi, bila masih kejang juga berikan lagi

dengan dosis yang sama.

d. Bila kejang belum juga hilang , berikan klorhidrat 2% 5 Mg/KgBB

e. Dosis penunjang dengan valium : diberikan setelah suntikan terakhir

yaitu4 kali/hari ( ½ dosis sampai dosis penuh /kali )

Tapi biasanya cara ( e ) diganti dengan cara ( f  ) yaitu :

f. Setelah kejang berhenti, berikan luminal initial dengan dosis :

Neonatus                         : 30 Mg IM

1 bulan – 1 tahun             : 50 Mg IM

> 1 Tahun                        : 75 Mg IM

Tunggu 4 jam sesudah luminal / fenobarbital initial. Baru diberikan fenobarbital dengan dosis tetap, dan bila masih demam atau pada penderita epilepsi dan sebagainya , maka diberikan :

Hari I dan II                    : 8 – 10 Mg/KgBB/Hari  2 dosis

Hari III dan seterusnya   : 4 – 5 Mg/KgBB/Hari    2 dosis

g. Membuka pakaian yang ketat, dilanjutkan dengan oksigenisasi.

- O2 kalau perlu intubasi atau trakeostomi.

- Posisi kepala miring untuk mencegah aspirasi.

h. Untuk penderita dengan kesadaran yang menurun, diberikan IVFD :

- IVFD 2A-KCl dengan kebutuhan cairan maintenence :

# 3 – 10 kg             : 105 cc/kgbb/hari

# 10 – 15 kg           : 85 cc/kgbb/hari

# 15 – 20 kg           : 65 cc/kgbb/hari

Catatan : Koreksi tiap kenaikan suhu 1oC dengan menambah kebutuhan maintenence 12 %

- Kortison 15 mg/ kgbb/ hari dalam 3 kali pemberian atau dengan dexametason 0,1 –  0,2 mg/kgbb/hari  juga  dalam  3  kali  pemberian

i. Penderita yang diduga ada odema serebri atau papil odema, diberikan :

- Dexametason / Oradekson ½ – 1 ampul setiap 6 jam atau Kortison 15 – 30   mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis.

j. Pemberian Antibiotika :

Selalu diberikan pada observasi kejang , terutama bila ada tanda-tanda Infeksi  :

- Pada infeksi ringan                   : 38.5 – 39.50C

Penisilli prokain50.000U/kgbb/hari

- Pada infeksi berat                    : 39,5 – 400C

PP 50.000 U/kgbb/hari + Chloromycetin

75 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis

- Pada infeksi sangat berat         : 400C

Ampicillin 100-200 mg/kgbb/hari + Genmycin       3 – 5mg/kgbb/hari dalam 4 dosis

k.Kompres es/ alkohol

Hibernasi : Largaktil 2 – 4 mg/kgbb dan Phenergan 4 – 6 mg/kgbb

2. Penderita datang dengan keadaan tidak kejang

a. Pada anamnestik ada kejang : berikan luminal initial ( f ) dan seterusnya

b. Pada anamestik tak ada kejang : berikan luminal maintenence 4mg/kgbb, dgn 2 kali pemberian.

3. Penderita kejang dengan SOL

- Semua prosedur sudah selesai dalam 24 jam

- Dikontra indikasikan untuk lumbal pungsi.

Lanjutan pengobatan rumatan ini tergantung dari keadaan penderita3.Luminal diberikan sampai 3 hari bebas panas1.

Penderita yang dipulangkan dan memerlukan tindakan preventif, bila didapatkan4 :

-  Neurodevelopmental abnormality

-  Kejang demam lebih dari 25 menit

-  Kejang demam dengan kelainan neurologik baik sementara maupun menetap

-  Ada riwayat epilepsi dalam keluarga

- Pengobatan preventif memakai Phenobarbital 3 – 5 mg/kgbb single dose diberikan malam hari , lama pemberian 2 tahun.Pemberian ini diberikan bila ibu penderita dapat dijamin untuk minum obat secara teratur dan terus – menerus.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Buku Saku : Kejang demam dalam segi – segi Ilmu Kesehatan Anak, Edisi ke  Editor M. Rahmat dan M.T Dardjat, 171-176.
  1. Herry gerna,Emelia Suroto-Hamzah, Heda melinda D, Nataprawira, Dwi P :Kejang demam dalam Pedoman diagnosis dan therapi Ilmu kesehatan anak Edisi ke 2, 2000, SMF Ilmu Keseehatan anak FKUP, Bandung, 478-479
  1. Staf pengajar Ilmu kesehatan anak FKUI : Kejang demam dalam buku kuliah  Ilmu kesehatan anak, jilid 2, Cetakan ketujuh, 1985, FKUI, Jakarta, 847-855
  1. Tjipta Bahtera Dr,SpA : Kejang Demam dalam pedoman pelayanan medik anak Edisi ke 2, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP,Semarang, 230-231
About these ads

No Responses to “KEJANG DEMAM”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: