Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

SINDROMA GUILLAIN BARRE


SINDROMA GUILLAIN BARRE

Pendahuluan

Sindroma Guillain Barre adalah penyakit yang menyerang radiks saraf yang bersifat akut dan yang menyebabkan kelumpuhan yang gejalanya dimulai dari tungkai bagian bawah dan meluas keatas sampai tubuh dan  otot-otot wajah. Penyakit ini dapat mengancam jiwa yaitu berupa kelemahan yang dimulai dari anggota gerak distal yang dengan cepat dapat merambat ke proximal.

Nama lain dari sindroma Guillaain Barre adalah Poli radikulo neuropati inflamasi akut atau PIA. Insiden tahunan di Amerika Serikat adalah 1 sampai 2 per 100.000. Penyakit ini tidak dipengaruhi terhadap musim dan tidak endemik dapat menyerang semua golongan umur terutama pada usia 50-70 tahun, presentasi jumlah antara pria dan wanita sama.

Penyakit ini merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan demielinisasi pada akar saraf tepi. Sampai saat ini penyebab pasti penyakit ini masih dalam perdebatan.

Etiologi

Pada umumnya penyakit ini sering didahului penyakit infeksi traktus respiratorius atas seperti influenza, atau dapat juga didahului oleh infeksi bakteri, vaksinasi, tindakan bedah dan lain-lain. Dengan melihat keadaan klinis yang mendahuluinya, banyak teori dicoba untuk dikaitkan dengan penyakit ini.

1. Infeksi

50% penderita mengalami infeksi dalam waktu 2 minggu sebelum gejala,

umumnya infeksi virus terutama influenza.

2. Tindakan Bedah

5-10% kasus terjadi setelah tindakan bedah.

3. Penyakit Keganasan.

Beberapa kasus penyakit ini dikaitkan dengan penyakit Hodgkins dan

limfoma.

4. Vaksinasi

3% penderita dengan sindroma ini 8 minggu sebelumnya mengalami

vaksinasi yang dilaporkan sebagian besar vaksinasi influenza.

Patologi

Masih belum jelas tetapi beberapa peneliti mempunyai kecenderungan peranan dasar patogenesa yang bersifat imunologik.

Bukti-bukti bahwa imunopatogenesa merupakan mekanisme yang menimbulkan jejas saraf tepi pada sindroma ini adalah:

  • Didapatnya antibody atau daya respon kekebalan selular terhadap agen infeksi saraf tepi.
  • Adanya autoantibodi atau kekebalan selular terhadap system saraf tepi.
  • Didapatnya penimbunan komplek antigen-antibodi pada pembuluh saraf tepi yang menimbulkan proses demielinisasi saraf tepi.

Gambaran Klinik

Terjadinya kelemahan yang bersifat progresif yang menyangkut lebih dari satu anggota gerak. Kelemahan dapat hanya berupa parese ringan pada kedua lengan dengan atau tanpa ataksia ringan sampai lumpuh total pada keempat otot ekstremitas, atot tubuh, otot bulbar, otot wajah dan biasanya mata tidak terkena.

Adanya arefleksia bagian distal dan hiporefleksia proksimal cukup untuk mendiagnosa dengan disertai ciri-ciri lain.

Ciri-ciri klinis lain dapat berupa :

–          Gejala kelumpuhan otot yang luas secara cepat tapi berhenti dalam 4 minggu, kira-kira 50% mencapai 2 minggu, 80 % sesudah 3 minggu, dan 90% sesudah 4 minggu.

–          Simetris, walaupun jarang akan tetapi bila sisi satu terkena maka sisi yang lain ikut terkena.

–          Gangguan sensorik ringan

–          Syaraf otak yang ikut terkena adalah saraf otak VII sekitar 50% dan sering bilateral. Saraf lain yang ikut terkena terutama mengenai lidah (proses menelan), otot ekstra okuler sekitar 5 %.

–          Progresifitas penyakit biasanya terhenti dalam 2-4 minggu dari sejak kelumpuhan.

–          Gangguan saraf otonom seperti takikardi, aritmia, hipotensi postural serta gangguan vasomotor bila ada akan memperkuat diagnosis.

Sindrom ini dikenal juga dengan paralysis ascendens oleh karena kelumpuhan yang menjalar dari bagian tubuh bawah ke bagian tubuh atas. Perluasan dan kelemahan otot-otot batang tubuh yang meluas ke daerah thorak akan  mengganggu pernapasan, oleh karena itu perlu dikontrol pernapasan penderita. Perkiraan kasar dapat dengan menyuruh penderita menarik napas panjang atau sedalam-dalamnya dan kemudian dihitung. Sebagian orang dapat mencapai hitungan 35 atau 40 dalam satu kali bernapas.

Jika diduga terjadi adanya paralysis landry yaitu kelumpuhan naik sampai ke N. Phrenicus dan N.Vagus yang menyebabakan gangguan gerak pernapasan pada diafragma dan costae sehingga tidak terjadi pernapasan thorakal atau abdominal yang dapat menimbulkan gagal napas, keadaan ini harus diatasi segera dengan trakeostomi.

Jika menganai saraf cranial selain gejala diatas dapat juga terjadi gejala kesemutan atau baal, pada anggota tubuh distal.

Pemeriksaan Penunjang

  • v        Pemeriksaan Cairan Serebrospinal

Adanya “albumino- Cytologic Dissosiation” yaitu penigkatan kadar protein pada cairan serebrospinal yang sangat tinggi lebih kurang diatas 300 mg/ul pada hari kesepuluh sampai hari keduapuluh tanpa disertai pleositosis, akan tetapi terdapat 9% kelainan ini tidak disertai kenaikan kadar protein. Peningkatan protein ini diduga akibat dari reaksi inflamasi yang luas. Hal diatas tidak sesuai dengan jumlah sel yang dalam LCS tidak mengalami perubahan.

  • v        Pemeriksaan elektroneuromiografi

Menunjukkan adanya dimielinisasi pada hampir semua penderita Sindrom Guillain Barre.

  • v        Pemeriksaaan Kecepatan Hantaran Saraf yang menurun (Nerve Conductivity Test)

Diagnosa Banding

  • ]          Polineuropathy Defisiensi Vitamin

Perjalanan penyakit progresif lambat (berbulan-bulan), gejala sensorik yang menonjol, kelemahan otot bagian distal, jarang menganai otot pernapasan, saraf cranialis atau saraf otonom. Pada punksi lumbal tidak ada peningkatan protein liquor.

  • ]          Miastenia Gravis

Kelemahan otot terutama yang sering digunakan seperti otot bola mata, otot-otot untuk menelan dan untuk bicara tidak ada keluhan sensorik. Didapat perbesaran thymus. Test prostigmin membaik.

  • ]          Paralisis Periodik Hipokalemia

Kelemahan otot terjadi pada pagi hari sehabis bangun tidur. Tidak ada keluhan sensorik yang diakibatkan oleh kadar kalium yang rendah. Dengan infus KCl akan membaik keadaannya.

Penatalaksanaan

A.          Umum

Meliputi pengawasan dan penanganan terhadap system pernapasan, sistem kardiovaskuler, sistem saluran pencernaan, sistem urogenital.

B.    Spesifik

1. Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid dosis rendah dan dosisi tinggi 500 mg dalam penggunaan harus diperhatikan efek samping yaitu moon face, penurunana daya tahan tubuh, osteoporosis, supresi korteks adrenal dan gastritis. Mnfaat pemberian masih kontroversi namun demikian apabila terjadi keaqdaan gawat akibat paralysis otot pernapasan maka kortikosteroid dosis tinggi dapat diberikan.

2. Fresh Frozen Plasma Exchange

Dianjurkan pada negara yang sedang berkembang, 0,5 liter darah diambil dari Vena ante Cubiti dan ditampung dalam kantong plastik, setelah venaseksi infus 0,25 liter plasma beku segar. Darah kantong plastik disentrifuge kembali ke penderita. Cara ini dilakukan dua kali sehari selama 7 sampai 13 hari berturut-turut.

3. Plasma Pharesis atau Plasma Exchange

Pengobatan dilakukan dengan mengganti 200-250 plasma/kgBB dalam 7-14 hari. Plasma diganti dengan beberapa cairan yang meliputi plasmonate, albumin 4% dan pook plasma setiap 1 kali plasma paresis dikeluarkan 40 ml/kgBB yang dikerjakan dalam 2 hari.

Program Rehabilitasi Medik

1. Fisioterapi

–          Alih baring (positioning) dan peregangan otot untuk mencegah kekakuan juga untuk mencegah terjadinya ulkus dekubitus.

–          ROM Exercise (latihan lingkup gerak sendi) secara pasif dan aktif untuk alat gerak atas dan bawah.

–          Latihan pernafasan dalam

–          Latihan penguatan dengan tahanan terhadap kelompok otot-otot besar.

–          Ambulasi dimulai dengan berdiri dan berjalan dengan menggunakan parallel bar.

2. Terapi Okupasi

–          Cara tidur yang benar yaitu dengan mengganjal kedua anggota gerak bawah untuk mencegah terjadinya droop foot.

–          Mencegah penggunaan otot persendian berlebihan sehingga dapat menimbulkan kelelahan.

3. Ortotik Prostetik

Alat bantu gerak sementara termasuk alat pembungkus kaki dengan elastik bandage untuk mentokong dorsofleksi kaki, kepala lutut dipakai splint temporer, kemudian a light spring wire brace untuk droop foot jika diperlukan.

4. Psikososial

–          Memberitahukan keluarga tentang prognosis penyakit dan mengajak keluarga untuk menjalankan program terapi bersama tim medis untuk mencapai hasil maksimal.

–          Meningkatkan gizi penderita dan menghindarkan infeksi.

–          Melakukan evaluasi psikologis secara teratur terhadap penderita.

Program Rehabilitasi Medik Yang Intensif dan Benar Pada Sindrom Guillain Barre

A.       Stadium Akut

Pada stadium ini penderita menunjukan kelemahan otot yang komplit atau sedang berjalan. Sasaran rehabilitasi medis adalah :

  • Memelihara luas gerak sendi (mencegah kontraktur)
  1. Pasif atau aktif assistif (tergantung kekuatan otot)
  2. Tidak boleh sampai lelah.
  3. Latihan dikerjakan hati-hati jangan sampai terjadi peregangan yang berlebihan karena akan mencederai otot yang dilatih.
  4. Restling splint dapat diprogramkan untuk tangan (untuk dapat mempertahankan posisi pergelangan tangan pada posisi fungsional) dan unutk kaki ( mencegah kontraktur tendo achilles)
  • Mencegah terjadinya ulkus dekubitus
  1. Ubah posisi penderita tiap 2 jam
  2. Hindari penekanan pada daerah yang mudah mengalami iskemik misalnya dengan memberi bantalan yang lembut.
  • Memelihara Fungsi Pernafasan
  • Memberi Dukungan Psikologis.

B.        Stadium Sub Akut

Pada fase ini ada perbaikan umumnya setelah 1 sampai 2 bulan.

Program rehabilitasi medik:

–          Pelatihan luas gerak sendi jangan sampai terjadi over stretching

–          Latihan penguatan otot disesuaikan dengan kemajuan motorik

–          Gait training

a. Latihan berdiri hanya boleh dilakukan jika kekuatan otot betis mencapai lebih dari 3.

b. Latihan jalan hanya dapat dimulai jiak otot gluteus, hamstring dan quadriceps kekuatannya

sudah lebih dari 3.

c. Jika kekuatan otot masih 2, latihan jalan dapat dilakukan dalam air (hidroterapi)

d. Latihan ADL (Activity of Daily Living)

–          Penderita hanya boleh makan sendiri jika kekuatan otot anggota gerak atas lebih dari 3, kadang diperlukan splint untuk pergelangan tangan dan kaki.

–          Kegiatan yang menyebabkan kerja berlebih harus dihindari.

C.       Stadium Kronis

Jika penderita tidak menunjukan perbaikan motorik setelah lebih dari 6 bulan berarti terdapat kerusakan akson yang luas sampai menunggu kesembuhan selanjutnya, program pencegahan imobilisasi lama harus dilakukan sebaik-baiknya.

Pencegahan Komplikasi Pada Imobilisasi yang Lama

    • Kelemahan Otot dan Atrofi Otot

      Pencegahannya:

      –  Pemanasan atau diatermi listrik

      – Latihan penguatan

        • Ulkus Dekubitus

          Pencegahannya:

          –  Posisi baring yang benar

          – Mengubah posisi baru tiap 2 jam

          – Nutrisi yang baik

          – Massage dan pemberian talk

          – Tempat tidur air

          –  Pemeliharaan tetap kering dan bersih

            • Gangguan Metabolik (Konstipasi)

              Pencegahannya:

              –          Makanan tinggi serat

              –          Minum yang banyak

              –          Mobilisasi

              –          Massage daerah abdomen

              –          Mengedan

              –          Rektal toucher

              –          Beri pencahar/klisma

                • Kontraktur

                  Pasif atau aktif ROM Exercise membantu mencegah kontraktur jaringan lunak dan dilakukan 2 kali sehari. Jika terjadi kontraktur dapat dibantu dengan memberi tekanan ringan dan stretching.

                    • Gangguan Fungsi Kardiovaskular dan Pulmo

                      Pencegahan pada hipotensi ortostatik yaitu dengan elevasi kaki, jangan berdiri mendadak, latihan gerak kaki dan tungkai, ubah posisi tiap 2 jam termasuk ke posisi gerak untuk menghindari terjadinya hipostatik pneumonia.

                        • Batu Saluran Kemih

                          Dapat dicegah mobilisasi atau ambulansi segera, banyak minum, diet rendah kalsium, pemeriksaan urin rutin.

                            • Deteriorasi Psikologis (Kemunduran Fungsi-Fungsi Psikologis)

                              Dicegah dengan sesegera mungkin dilakukan aktivitas yang mampu dilakukan dan dorongan keluarga serta lingkungan secara optimal.

                              Prognosis

                              80% pasien sindroma Guillain Barre membaik meskipun memakan waktu berbulan-bulan. Faktor yang memperburuk prognosa adalah gangguan otonom, otot pernafasan, adanya kelemahan pada EMG, usis pasien yang tua. Mortalitas pasien Sindrom Guillain Barre  adalah 3-5%.

                              DAFTAR  PUSTAKA

                              1)       Hardhi Pranata, dr, SpS; Sindroma Guillain Barre dalam Pengenalan dan penatalaksanaan Kasus-Kasus Neurologi, Buku Pertama, Dept. Neurologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Hal 48-54.

                              2)       Eddy Tamtama, dr, SpS, Sindroma Guillain Barre dalam Pemeriksaan Neurologis, Bagian IV, UPF Neurologi RSUD Gunung Jati, Cirebon; 2001, Hal 48-58

                              3)       Lumban Tobing, dr, SpS; Neurologi Klinik Pemeriksaan Klinik dan Mental, FKUI, Jakarta, 2000

                              

                              4 Responses to “SINDROMA GUILLAIN BARRE”

                              1. kenapa latihan pasif dapat mencegah kontraktur pada kasus ini, mekanismenya bagaimana yya?

                              2. assalamualaikum. Wr. Wb.
                                Terimakasih sekali infonya Pak/Ibuk.
                                Sahabat saya dua minggu yang lalu divonis Dokter kena Sindrom GUILLAIN BARRE ini, berat sekali cobaan ini bagi dia yang aktiv harus terbaring ditempat tidur.
                                Kelumpuhannya belum total, hanya tulang belakangnya sakit, serta kaki yang gag bisa digerakkan.
                                dia pengen sembuh. terapi apa yang paling tepat ya pak, soalnya dari pihak medis belum memberikan terapi, pa lagi dia dirumah sakit pulau, dan sindrom ini jugag bukan sindrom yang umum ada diindonesia.
                                terimakasih sekali kalo bapak/Ibu sudi memberikan penjelasan atau saran-sarannya.

                                salam

                                ica.

                              3. Assalamu’alaykum.
                                kenapa slh 1 pencegahannya kok tempat tidur di air???


                              Leave a Reply

                              Fill in your details below or click an icon to log in:

                              WordPress.com Logo

                              You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                              Twitter picture

                              You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                              Facebook photo

                              You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                              Google+ photo

                              You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                              Connecting to %s

                              %d bloggers like this: