Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

STRABISMUS


STRABISMUS

Pada kondisi penglihatan binocular normal, bayangan suatu benda jatuh secara bersamaan di fovea masing-masing mata ( fiksasi bifovea ) dan meridian vertical kedua retina tegak lurus dan apabila salah satu mata dapat tidak sejajar dengan mata yang lain, sehingga pada satu waktu hanya satu mata yang melihat benda bersangkutan maka setiap penyimpangan dari penjajaran ocular yang sempurna disebut dengan Strabismus.

Ketidak sesuaian penjajaran tersebut dapat terjadi kesegala arah –  kedalam , keluar, keatas dan kebawah.

Strabismus yang terjadi pada kondisi penglihatan binocular disebut Strabismus manifes, Heterotropia atau Propia. Suatu defiasi yang hanya muncul setelah penglihatan binokuler terganggu ( misalkan dengan penutupan salah satu mata disebut Strabismus laten, Heteroforia atau Foris )

Prevalensi strabismus dijumpai pada sekitar 4 % anak.

Fisiologi , dibagi menjadi 2 aspek :

  1. I.      Motorik :

ü    Kedudukan bola atau posisi mata,

Diperlukan penentuan kedudukan bola mata, dan sembilan posisi untuk diagnosis kelainan pergerakan mata . Dikenal beberapa kedudukan bola mata :

  1. Posisi primer : mata melihat lurus kedepan
  2. Posisi sekunder : Mata melihat lurus keatas , kebawah dan kekiri serta kekanan
  3. Posisi tertier : Mata melihat kekanan atas . keatas kiri , kebawah kanan dan kebawah kiri.

ü    Otot Penggerak bola mata

Kedua bola mata digerakan oleh adanya enam pasang kedua otot mata luar, sehingga bayangan benda yang jadi perhatian selalu jatuh tepat dikedua fovea sentralis. Otot kedua penggerak bola mata akan selalu bergerak secara teratur, gerakan otot yang satu akan mendapatkan keseimbangan gerak dari otot yang lainnya. Keseimbangan yang ideal seluruh penggerak bola mata menyebabkan kita dapat selalu melihat secara binokuler Pergerakan bola mata kesegala arah bertujuan untuk meluas lapang pandang, mendapatkan penglihatan foveal dan penglihatan binokuler untuk jauh dan dekat.

Otot bola mata mengerakan  bola mata pada  tiga buah sumbu pergerakan , yaitu :

Sumbu antero posterior

Sumbu Vertikel

Sumbu nasotempotal ( Horizontal )

Fungsi dari masing – masing otot :

  1. Otot Rektus medius , kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau menggulirnya bola mata kearah nasl dan otot ini dipersarafi oleh saraf III ( Okulomotorius )
  2. Otot Rektus Lateral, kontraksinya akan menghasilkan abduksi atau menggulirnya bola mata kearah temporal dan otot ini dipersadrafi oleh saraf ke VI ) abdusen )
  3. Otot rektus Superior, kontraksinya akan menghasilkan elevasi adduksi dan intorsi bola mata , dan otot ini persarafi oleh sarf III
  4. Otot rektus Inferior, kontraksinya akan menghasilkan depresi pada abduksi , ekstorsi dan pada abduksi, dan adduksi 23 o pada depresi. Otot ini dipersarafi oleh saraf ke III
  5. Otot Oblique superior, kontraksinya akan menghasilkan depresi intorsi bila berabduksi 39o, depresi saat abduksi 51o dan bila sedang depresi akan berabduksi. Otot ini dipersyarafi oleh saraf ke IV ( trochlear )
  6. Otot oblique inferior, dengan aksi primernya ekstorsi dalam abduksi sekunder oblique inferior adalah elevasi dalam adduksi dan abduksi dalam elevasi. Otot ini dipersyarafi oleh saraf ke III.

Demikian kesimpulkan dapat diuraikan sebagai :

  • ü      Rektus medius : aksi – adduksi
  • ü      Rektus lateral : aksi – abduksi
  • ü      Rektus superior, aksi primer : elevasi dalam abduksi

Aksi sekunder : – intorsi dalam adduksi
– adduksi dalam elevasi

  • ü      Rektus inferior, aksi primer : depresi pada abduksi

Aksi sekunder : akstorsi pada adduksi

Adduksi pada depresi

  • ü      Oblique superior, aksi primer : intorsi pada abduksi

Aksi sekunder : depresi dalam adduksi

Abduksi dalam depresi

  • ü      Oblique inferior, aksi primer : eksrorsi dalam abduksi

Aksi sekunder : elevasi dalam adduksi
Abduksi dalam elevasi

Otot Kerja Primer Kerja Sekunder
Rektus lateralis Abduksi Tidak ada
Rektus medialis Aduksi Tidak ada
Rektus superior Elevasi Aduksi, intorsi
Rektus inferior Depresi Aduksi, ekstorsi
Oblique superior Intorsi Depresi, abduksi
Oblique inferior Ekstorsi Elevasi, abduksi

Kedua sumbu penglihatan dipertahankan tegak lurus dan sejajar dengan suatu refleks. Bila refleks ini tidak dapat dipertahankan maka akan terdapat juling. Juling adalah satu keadaan dimana kedudukan bola mata yang tidak normal. Pasien dengan juling akan mengeluh mata lelah atau astenopia, penglihatan kurang pada satu mata, lihat ganda atau diplopia, dan sering menutup sebelah mata.

ü      Otot otot sinergistik & antagonistik ( hukum sherrington )

Otot- otot sinergistik adalah otot-otot yang memiliki bidang kerja yang sama. Dengan demikian, untuk tatapan vertikal, otot rektus superior dan obliqus inferior bersinergi menggerakkan mata ke atas. Otot-otot yang sinergistik untuk suatu fungsi mungkin antagonistik untuk fungsi lain. Misalnya, otot rektus superior dan obliqus inferior adalah antagonis untuk torsi, karena rektus superior menyebabkan intorasi dan obliqus onferior ekstorsi. Otot-otot ekstra okular, seperti otot rangka, memperlihatkan persyarafan timbal balik otot-otot antagonistik ( hukum sherrington ). Dengan demikian, pada dekstroversi ( menatap ke kanan ), otot rektus lateralis medialis kanan dan lateralis kiri mengalami mengalami inhibisi sementara otot rektus lateralis kanan dan medialis kiri terstimulasi.

ü      Otot – otot pasangan searah ( hukum hering )

Agar gerakan bola mata berada dalam arah yang sama, otot-otot agonis yang berkaitan harus menerima persyarafan yang setara ( hukum hering ). Pasangan otot agonis dengan kerja primer yang sama disebut pasangan searah ( yoke pairs ). Otot rektus lateralis kanan dan rektus medialis kiri adalah pasangan searah untuk menatap ke kanan. Otot rektus inferior kanan dan oblikus superior kiri adalah pasangan searah untuk memandang ke bawah dan ke kanan.

  1. Sensorik

Kelainan sensorik pada Strabismus :

1)      Diplopia

Apabila strabismus, kedua fovea menerima bayangan yang berbeda. benda yang tercitra di kedua fovea tampak dalam arah ruang yang sama. Proses lokalisasi benda yang secara spatial terpisah ini ke lokasi yang sama disebut kebingungan penglihatan ( visual confusion ). Benda yang terlihat oleh salah satu fovea dicitrakan didaerah retina perifer dimata yang lain. Bayangan fovea terlokalisasi tepat didepan, sedangkan bayangan retina dari benda yang sama di mata yang lain dilokalisasi di mata yang lain. Denan demikian, benda yang sama terlihat di dua tempat ( diplopia ).

2)      Supresi

Di bawah kondisi penglihatan binokuler bayangan yang terlihat disalah satu mata menjadi predominan dan yang terlihat di mata yang lain tidak di presepsikan ( supresi ). Pada eksotropia, daerah supresi cenderung berukuran lebih besar dan meluas dari fovea ke separuh temporal retina.

3)      Ambliopia

Pengalaman visual abnormal  berkepanjangan yang dialami oleh seorang anak berusia kurang dari 7 tahun dapat menyebabkan ambliopia ( penurunan ketajaman penglihatan tanpa dapat dideteksi adanya penyakit organik pada suatu mata ). Pada strabismus, mata yang biasa digunakan untuk fiksasi masih mempunyai ketajaman yang normal dan mata yang tidak dipakai sering mengalami penurunan penglihatan ( ambliopia ).

4)      Anomali Korespondensi Retina

Pada strabismus di bawah kondisi penglihatan binokular, retina perifer di luar daerah skotoma supresi dapat mengambil nilai-nilai arah dalam ruang yang baru yang bergeser oleh deviasi. Hal ini menimbulkan anomali korespondensi nilai-nilai arah antara titik-titik retina di kedua mata. Nilai-nilai arah di mata yang berdeviasi berubah sedemikian sehingga diplopia dapat dihindari. Pada keadaan ini, stereopsis tidak dapat terjadi pada nilai-nilai arah yang baru tersebut mungkin labil dan dari waktu ke waktu menyesuaikan diri seiring dengan perubahan deviasi akibat perubahan arah pandangan.

5)      Fiksasi eksentrik

Pada mata yang mengalami ambliopia yang cukup parah, mungkin digunakan daerah retina ekstra fovea untuk fiksasi di bawah kondisi penglihatan monokular. Hal ini berkaitan dengan ambliopia berat dan fiksasi yang tidak stabil. Fiksasi eksentrik yang mencolok mudah diketahui secara klinis dengan menutup mata yang dominan dan mengarahkan perhatian pasien ke suatu sumber cahaya yang dipegang tepat di muka. Suatu mata dengan fiksasi  eksentrik besar akan tampak melihat ke suatu arah yang lain. Fiksasi eksentrik yang lebih ringan dapat dideteksi dengan oftalmoskop.

Kiasifikasi dari strabismus, dibagi menjadi:

  • Esotropia ( paling sering )

Dibagi menjadi 2 tipe :

– paretik ( incomitant / kelumpuhan abdusens ) : akibat peresis atau paralisis satu atau lebih otot ekstra okular. Paresis biasanya mengenai satu atau kedua otot rektus lateralis akibat kelumpuhan syaraf abducent. Kasus ini sering dijumpai pada orang dewasa dengan trauma kepala,hipertensi sistemik atau diabetes, tetapi kelumpuhan syaraf abdusen kadang-kadang merupakan tanda awal suatu tumor atau peradangan yang mengenai susunan syaraf pusat. Kasus ini jarang dijumpai pada bayi dan anak. Paresis otot rektus lateralis kanan menyebabkan esotropia yang menjadi lebih besar sewaktu memandang ke kanan dan apabila paresisnya ringan sedikit atau tidak terjadi deviasi sewaktu memandang ke kiri.

– Non Paretik

A. Non akomodatif –> Non Akomodatif, dibagi:

a. Infantilis

b. didapat

B. Akomodatif

C. Akomodatif parsial

– Paretik

  • Exotropia, dibagi :

1. Intermiten

2. Konstan

  • Pola “A dan V “
  • Hipertropia, dibagi

1. paretik

2. non paretik

Thanks to: kelompok 2 mata FKUY yg namanya tdk dpt disebutkan satu persatu

No Responses to “STRABISMUS”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: