Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

KARSINOMA NASOPHARYNX



PENDAHULUAN

Kasinoma nasopharynx  merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%) dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam presentase rendah. Berdasarkan data laboratorium patologi anatomi, tumor ganas nasopharynx sendiri selalu berada dalam kedudukan lima besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas servik uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit. Hampir 90% dari karsinoma nasopharynx adalah “Squamous cell carcinomas” dan 5% adalah melanomas, lymphomas, dan sarcomas.

Penggolongan yang paling umum digunakan WHO dan histopathology, yang membagi tumor ini ke dalam tiga jenis: squamous cell carcinoma (type 1), nonkeratinizing carcinoma (type 2), and undifferentiated carcinoma (type 3). · presentasi Yang klinis tergantung pada lokalisasi, dengan luka kecil menjadi asymptomatic.

Diagnosa dini menentukan prognosis penderita, namun cukup sulit dilakukan, karena nasopharynx  tersembunyi dibelakang tabir langit – langit dan terletak dibawah dasar tengkorak serta hubungan dengan banyak daerah penting didalam tengkorak dan ke lateral maupun posterior leher.

Oleh karena letak nasopharynx  tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli, seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama.

ANATOMI NASOPHARYNX

Ruang nasopharynx  yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting.

a.  Pada dinding posterior meluas kearah kubah adalah jaringan adenoid.

b. Terdapat jaring  limfoid pada dinding faringeal lateral dan pada resesus faringeus,  yg dikenal sebagai fossa Rosenmuller.

c. Torus tubarius refleksi mukosa faringeal diatas bagian kartilogo saluran tuba  eustachius yang terbentuk bulat dan menjulang tampak sebagai tonjolan seperti ibu jari kedinding lateral nasofaring tepat diatas perlekatan polatum mole.

  1. d.     Koana posterior rongga hidung
  2. e.     Foramina kranial yang terletak berdekatan dan dapat terkena akibat perluasan dari penyakit nasopharynx , termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glossofaringeus, vagus dan asesorius spinalis.
  3. f.       Struktur pembuluh darah yang penting yang terletak berdekatan termasuk sinus petrosus inferior, vena jugularis interna, cabang meningeal oksipital dan arteri faringeal asenden, dan foramen hipoglosus yang dilalui saraf hipoglosus.
  4. g.     Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat bagian lateral atap nasofaring.
  5. h.    Ostium dari sinus – sinus sfenoid

Nasopharynx dapat diperiksa pada satu dari tiga jalan yang ada. Penderita benapas melalui mulut kemudian dilakukan penekanan yang lembut kearah bawah pada sepertiga tengah lidah dangan spatel, kemudian dimasukkan cermin kedalam orofaring. Pemeriksaan ini menggunakan cermin yang kecil, cermin digerakkan memutar dari satu kesisi lainnya untuk melihat keseluruhan nasopharynx, refleksi pada arah atas memberikan gambaran dari torus tubarius pada tiap-tiap sisi, koana posterior rongga hidung, ujung posterior dari konka inferior, dan kubah serta dinding poterior nasofpharynx. Seringkali penderita membutuhkan anastesi topikal untuk menurunkan “reflek muntah” yang akan menghambat pemberian gambar yang adekuat, muntah akan memberikan gambaran inadekuat nasofaring pada beberapa penderita yang diduga mempunyai masalah yang berhubungan dengan daerah ini jika anastesi topikal sendiri tidak memberikan pemeriksaan yang adekuat, mungkin digunakan kateter kecil melalui kateter kecil melalui rongga hidung, memegangnya di orofaring dan melalui kateter ini langsung kemulut.hal ini memberikan retraksi palatum mole. Tentu saja membutuhkan anastesi pada rongga hidung dan orofaring.

Teknik yang lebih baik untuk melihat nasofaring adalah menggunakan nasofaringoskop fleksibel atau nasofaringoskop lurus yang non fleksibel secara langsung melalui hidung ke nasofaring. Dengan tehnik ini tidak hanya memberikan gambaran yang lebih baik tapi juga pembesaran.

Gambaran ca nasopharynx dgn nasofaringoskop

EPIDEMIOLOGI

Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya kanker nasopharynx ,sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk cina bagian selatan, hongkong, vietnam,Thailand, malaysia, Singapura dan indonesia.

Ditemukan pula cukup banyak kasus di yunani, Afrika bagian utara seperti aljazair dan tunisia, pada orang eskimo di alaska dan tanah hijau.

Dalam pengamatan dari pengunjung poliklinik tumor tht rscm,penderita karsinoma nasopharynx  dan ras cina relatif sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainnya

ETIOLOGI

Sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasopharynx  adalah virus epstein-barr, karena pada semua penderita karsinoma nasopharynx  didapat titier anti-virus EB yang cukup tinggi. Titier ini lebih tinggi dari titer orang sehat, penderita tumor ganas leher dan kepala lainnya, tumor organ tubuh lainnya, bahkan kelainan nasopharynx  yang lain sekalipun.

Banyak penyelidik mengenai perangai dari virus ini dikemukakan, tetapi virus ini bukan satu-satunya faktor, karena banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan timbul timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial,  jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial, ekonomi, infeksi kuman atau parasit.

Tumor ini lebih banyak ditemukan pada laki2 dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain lainnya.

Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi dari bahan kimia, asap sejenis kayu bakar, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas. Terdapat hubunan antara kadar nikel dalam air minum dan makanan dengan mortalitas karsinoma nasopharynx , sedangkan adanya hubungan dengan keganasan lain tidak jelas.

Kebiasaan penduduk Eskimo memakan makanan yang diawetkan (daging dan ikan ) terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya kejadian karsinoma ini.

Tentang faktor genetik telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari penderita karsinoma nasopharynx dengan keganasan organ tubuh lain. Secara umum didapatkan 10% dari penderita karsinoma nasopharynx  menderita keganasan organ lain. Pengaruh genetik terhadap karsinoma nasopharynx  sedang dalam pembuktian dengan mampelajari “cell-mediated immunity” dari virus EB dan “tumor associated antigens” pada karsinoma nasopharynx .

Sebagian besar penderita adalah golongan sosial ekonomi rendah dan hal ini menyangkut pula dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup.

Yang menyebabkan atau meningkatkan resiko terkena Karsinoma nasopharynx .

1). Penggunaan tembakau – tembakau merupakan factor resiko terbesar yang  menyebabkan kanker kepala dan leher, yang dalam hal ini adalah nasopharynx.

Jika penggunaan tembakau dihentiksn, dapat menurunkan resiko terkena kanker sampai 5 atau 10 tahun.

2). Ineksi, seperti syphilis dan beberapa virus dapat menyebabkan

3). Imunitas yang rendah, seperti pada penyakit

4). Ada riwayat kanker disaluran

5). Bernafas serbuk gergaji dan menghirup asap dari hasil pemakaran tertentu dapat meningkatkan resiko untuk karsinoma nasopharynx dan tumor sinus, hal ini mungkin disebabkan dari iritas yang kronik.

GEJALA DAN TANDA

Menurut Kim W Ah – See, salah seorang konsultant otolaryngologist, ahli Bedah kepala –leher. Di Inggris  Gejala Yang paling umum adalah:

  • Hidung tersumbat
  • Pendengaran berkurang pada salah satu telinga
  • Benjolan di leher (uatu tanda adanya penyebaran kanker di leher)

Gejala yang kurang umum adalah :

  • Pusing
  • Masalah menelan
  • Penglihatan kabur
  • Hidung berdarah

Gejala karsinoma nasopharynx  dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu :

  1. 1.     Gejala nasopharynx
  2. 2.     Gejala telinga
  3. 3.     gejala mata dan saraf
  4. 4.     Metastasis atau gejala dileher

GEJALA NASOPHARYNX

Gejala nasopharynx  dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung, untuk itu nasopharynx  harus diperiksa dengan cermat. Kalau perlu dengan nasofaringoskop, karena seering gejala belum ada sedangkan tumor sudah tumbuh atau tumor tidak tampak karena masih terdapat di bawah mukosa ( creeping tumor ).

GEJALA TELINGA

Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba eustachius ( fosa rosen-muller ). Gangguan dapat berupa tinitus, rasa tidak nyaman ditelinga sampai rasa nyeri ditelinga ( otalgia ). Tidak jarang penderita dangan gangguan pendengaran ini baru kemudian disadari bahwa penyebabnya adalah karsinoma nasopharynx.

GEJALA MATA DAN SARAF

Karena nasopharynx berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang, maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma nasopharynx ini. Penjalarannya melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI dan dapat pula ke V, sehingga tidak jarang gejala diplopia yang membawa penderita lebih dahulu kedokter mata. Neuralgia trigeminal merupakan gejala yang sering ditemukan oleh alhi saraf jika belum terdapat keluhan yang berarti.

Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalarannya melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Gangguan ini sering disebut sebagai sindrom jackson . bila sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral. Dapat pula disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian, biasanya prognosisnya buruk.

METASTASIS ATAU GEJALA DI LEHER

Menurut penelitian Institut Radiology Mallinckrodt, di Washington St. Louis, MO 63108 “insiden metastasis ke leher berhubungan dgn tingkat dr cervical lymphadenopathy” metastasis ke kelenjar leher dlm btk benjolan di leher yg mendorong penderita untuk berobat, karena sebelumnya tdk terdapat keluhan lain.

KOMPLIKASI

Metastasis jauh ketulang, hati dan paru-paru dengan gejala khas nyeri pada tulang, batuk-batuk dan gangguan fungsi hati.

DIAGNOSIS

Persoalan diagnosis sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan ct-scan daerah kepala dan leher, sehingga tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan terlalu sulit ditemukan.

Pemeeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral, dan waters menunjukkan masa jaringan lunak didaerah nasopharynx .

Pemeeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasopharynx. Tjokro setiyo dari FKUI mendapatkan dari 41 pasien karsinoma nasofaring stadium lanjut ( stadium III dan IV ) sensitivitas IgA VCA adalah 97,5% dan spesifitas 91,8% dengan titer berkisar antara 10 sampai 1280 dengan terbanyak titer 160. IgA anti EA sensitivitas 100% tetapi spesifitasnya hanya 30%, sehingga pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan. Titer yang didapat berkisar antara 80 sampai 1280 dan terbanyak pada titer 160.

Diagnosa pasti dengan melakukan biopsi nasofaring.biopsi dapat dilakukan dengan 2 cara , yaitu dari hidung atau dari mulut.

Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsi) cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menyusuri konka media ke nasopharynx  kemudian cuman diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsi.

Biopsi melalui mulut dengan menggunakan bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama-sama ujung kateter yang di hidung. Demikian juga dengan kateter dari hidung sebelahnya, sehingga palatum mole tertarik keatas . kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut, masa tumor akan terlihat jelas. Biopsi tumor nasopharynx umumnya dilakukan dengan anastesi topikal dengan Xylocain 10%.

Bila dengan cara ini masih belum didapat hasil yang memuaskan maka dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasopharynx  dalam narkosis.

Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal, dan lain-lain dilakukan untuk mengetahui metastase.

HISTOPATOLOGI

Telah disetujui oleh WHO bahwa hanya ada 3 bentuk karsinoma pada nasopharynx  yaitu karsinoma sel skuomosa (berkeratinisasi), karsinoma tidak berkertinisasi dan karsinoma tidak berdiferensiasi. Semua yang kita kenal selama ini dengan limfoepitelioma, sel transisional, sel spindle, sel clear, anaplastik dan lain lain dimasukkan dalam kelompok tidak berdiferensiasi.

STADIUM

Untuk penentuan stadium dipakai system TMN menurut UICC (1992)

T = Tumor Primer

T0 – tidak tampak tumor

T1 – tumor terbatas pada satu lokasi saja ( lateral/posterosuperior/atap dan lain – lainnya).

T2 – tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas didalam rongga nasopharynx.

T3 – tumor telah keluar dari nasopharynx  ( ke rongga hidung atau oropharynx )

T4 – tumor telah keluar dari nasopharynx dan telah merusak tulang tengkorak atau mengenai saraf – saraf otak.

Tx – tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.

N = pembesaran kelenjar getah bening regional

N0 – tidak ada pembesaran.

N1 – terdapat pembesaran tetapi homolateral dan masih dapat digerakkan

N2 – terdapat pembesaran kontralateral / bilateral dan masih dapat digerakkan.

N3 – terdapat pembesaran baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar.

M = metastasis jauh

M0 – tidak ada metastasis jauh

M1 – terdapat metastasis jauh

Stadium I :

T1                                   dan N0                       dan M0

Stadium II :

T2                                   dan N0                       dan M0

Stadium III :

T1,T2,T3                        dan N1                       dan M0

Atau T3                         dan N0                       dan M0

Stadium IV :

T4                                   dan N0/N1                 dan M0

Atau T1,T2,T3/T4         dan N2/N3                 dan M0

Atau T1/T2/T3/T4         dan N0/N1/N2/N3    dan M1

THERAPY

Radiotherapy masih merupakan pengobatan utama karena tumor ini sangat sensitif pada sinar x – ray dan pada umumnya memberikan respon yg baik. Dan juga ditekan pada penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan komputer.   Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa pemberian tetrasiklin faktor transfer interferon, kemoterapi, seroterapi vaksin dan antivirus.

Pembedahan hanya mempunyai peranan yang kecil dalam pengobatan, hal ini disebabkan letak anatomi dari nasopharinx yang berada di dalam.

Semua pengobatan tambahan ini masih dalam pengembangan, sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai ajuvan terapi (tambahan). Berbagai macam kombinasi dikembangkan, yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cisplatinum sebagai inti.

Kombinasi kemo – radioterapi dengan mitomycin c dan 5 – fluorouracil oral setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat “radiosensitizer” memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total penderita karsinoma nasopharynx.

Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi.

Operasi tumor induk (residu) atau kambuh (residifa) diindikasikan, tetapi sering timbul komplikasi yang berat akibat operasi.

PERAWATAN PALIATIF

Perhatian pertama harus diberikan pada penderita dengan pengobatan radiasi. Mulut rasa kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Tidak banyak yang dapat dilakukan selain menasehatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah, membawa minum kemana pun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Gangguan lain adalah mukositas rongga mulut karena jamur, rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang kadang muntah atau rasa mual.

Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana tumor tetap ada (residu) atau kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastasis jauh pasca pengobatan seperti ketulang, paru, hati otak. Pada kedua keadaan tersebut diatas tidak banyak tindakan medis yang dapat diberiksn selain pengobatan simtimatis untuk meningkat kualitas hidup pasien. Pasien akhirnya meninggal akibat keadaan umum yang buruk, perdarahan hidung dan nasopharynx yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat alat vital akibat metastasis tumor.

PROGNOSIS

Sangat mencolok perbedaan prognosis (angka bertahan hidup 5 tahun) dari stadium awal dengan stadium lanjut, yaitu 76,9% untuk stadium I, 56% untuk stadium II, 38,4% untuk stadium III dan hanya 16,4% untuk stadium IV

PENCEGAHAN

  • Pemberian vaksin pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko tinggi
  • Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah dengan resiko tinggi ketempat lainnya.
  • Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan – bahan berbahaya.
  • Penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang idak sehat, meningkatkan keadaan social ekonomi dan berbagai hal yang berkaotan dengan kemungkinan – kemungkinan factor penyebab
  • Melakukan tes serologi IgA anti VCA dan IgA anti EA secara masal yang akan datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasopharynx secara lebih dini

13 Responses to “KARSINOMA NASOPHARYNX”

  1. Thankz infonya,,,

  2. assalammu’alaikum wr wb,
    salam kenal dok,nama saya arief umur 30 th.
    terima kasih atas info artikelnya.
    Saya sering gejala migrain bag. kiri dan kurang lebih 2 bulan ini sering mimisan (hidung berdarah).
    Terakhir saya melakukan MRI, disimpulkan bahwa:
    1. Mass nasopharynx kiri, extensi melalui midline, parapharyngeal space &
    prevertebal space (T2b)
    2. Pembesaran kelenjar parapharynx kanan-kiri,coli kanan-kiri & fossa
    supraclavicula kanan-kiri (N3b)
    3. Patency major intracranial arteries, tidak tampak
    stenosis/aneurysm/AVM
    terakhir saya periksa ke THT,divonis ada tumor nasopharynx bg. kiri & hari senin (10/09/2012) rencana biopsi untuk mengetahui jenis tumornya.

    Yg saya tanyakan:
    1. Apa arti dari hasil kesimpulan MRI saya dok? beserta simbol (T2b) / N3b ?
    2. Apakah setelah dibiopsi kita bisa langsung melakukan kegiatan harian?
    3. Makanan / hal – hal apa saja yang perlu saya hindari?

    Atas perhatian & jawabannya saya sangat menunggu & berterima kasih.
    Wassalammu’alaikum wr wb.

  3. terimakasih dokter…penjelasan yang sangat saya cari cari…semoga diberikan balasan kebaikan untuk dokter

  4. dokter, tahun 1996 suami saya divonis ca nasopharynx stadium 1b. mendapat pengobatan radioterapi dan kemoterapi, cukup lama. setelah 5 tahun dinyatakan sembuh. Tapi tahun 2002 tiba-tiba leher kaku dan kesulitan berpaling kiri dan kanan. seminggu kemudian meninggal.
    Sekarang saya mengalami gangguan di telinga kiri, seperti keadaan kita naik pesawat terbang, jika menelan akan terasa seperti berbunyi blep. Saya ke THT, saya utarakan kekhawatiran saya terhadap ca nasopharynx. Dokternya malah bilang ini cuma kotoran saja, nanti keluhannya hilang. Saya tidak yakin, dan benar saja hingga saat ini masih ada “bunyi” tersebut bahkan lebih sering. Kemana saya harus memeriksakan ini, apakah saya bisa konsultasi langsun dan bertemu dengan dokter? Terima kasih. Usia saya hampir 53 tahun. Suami saat meninggal 49 tahun.

    Joyce

  5. salam sejahtera dok, nama saya sandy umur 30 tahun, saya sejak SMA sering mengalami mimisan belakang sampai 2 tahun belakangan ini saya baru mulai berani memeriksakan diri karena saya mulai merasakan vertigo dan leher sering terasa nyeri. saya sudah ke beberapa Dr THT tapi hasil nya nihil akhirnya karena saya masi kuatir saya di sarankan untuk CT Scan dengan kontras untuk memastikan nya, dan hasil nya adalah

    Hasil pemeriksaan Radiologi tgl 17 febuari 2011,
    pemeriksaan : SINUS PARANASALIS 3 POSISI
    X foto sinus paranasalis :

    – Tampak septum deviasi ke kiri
    – Concha inferior besar ( allergi ?)
    – tidak tampak kesuraman pada sinus paranasalis
    – Adenoid tidak membesar

    Kesan :
    1. tampak septum deviasi ke kiri
    2. tidak tampak gambaran sinusitis
    3. concha inferior besar ( allergi ? )
    4. Adenoid tidak membesar

    Hasil pemeriksaan Radiologi tgl 22 febuari 2011
    Pemeriksaan : CT scan NASOPHARYNX, AXIAL-CORONAL, tanpa dan dengan KONTRAS INJEKSI IV :

    Nasofaring masih cukup simetri di kanan dan kiri, mukosa menebal difus, tidak tampak bulging tidak mencurigakan massa di region nasofaring. Post kontras menyangat simetri di kanan & kiri Fossa Rossenmuler baik. Otot2 regio nasofaring : musc levator f\dan tensor veli pallatini tebal difus Musc. Pterygoideus lateral et medial D et s simetri baik. Proc pterygoidej kanan & kiri baik, tidak tampak destruksi. Ruang parafaring kanan kiri bersih. Jaringan prevertbral tidak menebal Fossa media tidak tampak SOL , tidak tampak penyangatan patalogis pada sinus cavernosus tidka tampak pembesaran patologi kelenjar cervical
    Pada hidung –sinus parasanal : penebalan minimal mukosa maxillaries kiri. Sinus parasanal lainnya yang tercakup dalam scan ini tampak jernih
    Septum nasi deviasi ke kiri , concha nasalis iferoor bilateral tebal

    KESAN :
    1. penebalan ringan difus mukosa nasofaring bisa ec. Proses peradangan kronik
    2. tidak mencurigakan nodul atau massa di region nasofaring
    3. tidak tampak pembesaran patologis kelenjar cervical
    4. penebalan minimal mukosa maxillaries kiri. Sinus parasanal lainya yang tercakup dalam scan ini normal
    5. septum nasi deiasi kiri, concha nasalis inferior bilateral tebal : kronik atau allergic rhinitis

    yang jadi pertanyaan saya
    1.apakah diagnosa dengan ct scan sudah cukup dan dokter THT
    semuanya menganggap saya alergi
    2. bila alergi saya sudah di berikan antibiotik tapi darah masih saja keluar
    walaupun hanya 3 – 6 bulan sekali ( dulu bisa 1 bulan sekali )
    3. saat ini saya mengalami gangguan telinga bila ruangan sedang sunyi
    4. saya saat ini masih mengalami pusing atau vertigo
    4. leher saya terasa pegal2

    saya mohon bantuan Dr untuk pencerahan nya, terima kasih banyak dok

    • 1. memang selain CT scan diagnosa juga memerlukan anamnesa dan pemeriksaan fisik, jadi ct scan hanya membantu diagnosa saja
      2. untuk alergi obatnya tidak dengan antibiotik, tp dengan menggunakan anti alergi seperti antihistamin atau kortikosteroid
      3. untuk gangguan2 itu, saya rasa berhubungan dengan alergi yang sodara alami, karena THT itu semuanya berhubungan, jd misalnya hidung anda mampet, maka telinga anda akan mengalami gangguan juga.

  6. Dok,saya mau tanya apakah ada gejala lain Ɣαηƍ dapat ∂ï temuka pada mata selain diplopia atau penglihatan kabur?

  7. terima kasih pak dokter atas tulisannya, saudara saya diambil sample darah hidungnya, dari hasil pemeriksaan Lab diketahui terdapat sel atipik pada swab nasopharinx, tulisan bapak memberikan saya penjelasan lbih lengkap tentang nasopharinx … semoga sukses selalu utk bapak

  8. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Bapak Dokter Ifan yang baik. Perkenalkan terlebih dulu, nama saya Yanto Musthofa, tinggal di Bogor. Saya bekerja sebagai penulis lepas.
    Saya dan beberapa teman sedang menggarap biografi tokoh nasional Jenderal TNI (Purn) Edi Sudradjat (alm.). Setelah browsing ke sana kemari untuk mencari artikel tentang kanker nasofaring, saya menemukan artikel Bapak yang kami butuhkan.
    Bersama ini, saya mohon izin untuk memuat artikel Bapak dalam lampiran buku biografi tersebut. Mudah-mudahan tidak keberatan.
    Demikian surat saya, sebelum dan sesudahnya saya menghaturkan terimakasih.
    Salam kenal dan salam hangat.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Yanto Musthofa

  9. Terima kasih pak dokter. kumpulan referatnya sangat membantu gw, yang lagi stase THT.. keep up the good work.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: