Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

ID REACTION


REAKSI AUTOSENSITISASI (REAKSI ID, DERMATOFITID)

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar, atau bahkan mungkin pernah mengalami timbulnya bercak-bercak atau bentolan kulit yang gatalserta tersebar di atas permukaan tubuh, beberapa saat setelahmengkonsumsi suatu jenis makanan. Keluhan atau gambaran seperti itumerupakan salah satu dari sekian banyak manifestasi penyakit alergi yangsering dijumpai. Tubuh kita memiliki serangkaian mekanisme pertahanan yang menakjubkan.

Mekanisme ini dibuat untuk menjaga kesehatan kita. Salah satu mekanisme tersebut kita kenal sebagai sistem kekebalan atau imun. Secara singkat sistem kerja dari imun tersebut yaitu bila suatu bahan asing misalnya bakteri atau virus memasuki tubuh kita, jaringan tubuh akan mengenali protein khusus dari bahan asing penyerang itu dan membuat antidot (zat penawar) yang hanya akan membasmi protein khusus tadi. Zat kimia penawar untuk pertahanan yang dihasilkan oleh tubuh kita disebut antibodi. Sedangkan protein asing yang akan diserang dan dilumpuhkannya disebut antigen.

Sistem pertahanan itu cerdik dan berhasil. Kelemahannya adalah tubuh harus menemui dua protein asing (antigen) sebelum sistem ini dapat menghasilkan pertahanan terhadapnya (antibodi). Dengan kata lain, kita harus diserang terlebih dahulu sebelum kita dapat melawan. Sebagai contoh, jika terkena virus campak tubuh tidak akan begitu bermasalah, tapi masalah akan menjadi serius jika tubuh berhadapan dengan penyakit yang serius seperti cacar atau difteri. Pada dasarnya, mereka yang selamat dari infeksi berbahaya demikian itu berkat sistem kekebalan tubuh mereka yang bekerja cepat dan mulai memproduksi antibodi dalam waktu singkat. Jadi, bila reaksi tubuh lebih lambat, mereka yang terinfeksi akan kurang beruntung.

DEFINISI

Reaksi id, atau autoeczematisasi, adalah suatu reaksi akut pada kulit yang disebabkan berbagai macam etiologi, termasuk kondisi kulit yang terinfeksi dan meradang. Ruam yang gatal menandai bahwa reaksi id, yang umumnya karena reaksi immunologi, dikenal juga sebagai dermatoftid, pediculid, atau bakteri yang dihubungkan dengan suatu proses infeksi. Gejala klinis dan histopatologi bervariasi dan bergantung pada etiologi dari erupsinya.

Suatu reaksi kulit yang disertai perkembangan dari bermacam-macam kelainan kulit sebagai respon dari infeksi (virus, bakteri, jamur, parasit), kondisi kulit yang meradang atau penyebab lain lain.

Reaksi kulit dapat bermacam-macam mulai  dari kulit yang gatal dan merah berkembang menjadi lepuh dan melibatkan berbagai bagian dari tubuh.

PATOFISIOLOGI

Sementara ini, penyebab reaksi id tidak diketahui secara pasti, faktor-faktor berikut dianggap sebagai yang bertanggung jawab:

(1)  Pengenalan sistem imun yang abnormal dari autologous antigen kulit

(2) Meningkatnya rangsangan normal sel T oleh kulit dengan mengubah Konstituen kulit

(3) Penurunan ambang batas iritasi

(4) Penyebaran antigen yang infeksius  dengan respon sekunder

(5) Penyebaran hematogen sitokin dari lokasi utama.

Mortality dan Morbidity, morbiditas disebabkan oleh gejala dari reaksi id dan kejadian akut dari erupsi utama. Kondisi ini tidak memiliki predileksi pada setiap ras atau kelompok etnik. Kondisi ini juga tidak memiliki predileksi pada jenis kelamin tertentu. berdasarkan predileksi kelompok umur tidak diketahui tetapi dipengaruhi oleh penyebab utama reaksi.

MANIFESTASI KLINIS

Reaksi id diakibatkan oleh bermacam stimuli, termasuk kondisi kulit yang terinfeksi dan meradang. Manifestasi dermatologi tergantung pada etiologi dari erupsi. Umum gejalanya meliputi sebagai berikut:

  • Bermacam tingkat gatal pada umumnya dapat ditemukan
  • Satu serangan akut yang sangat gatal, erythematous, maculopapular, atau erupsi papulovesicular terjadi 1-2 minggu setelah infeksi primer atau dermatitis. Reaksi id berhubungan dengan dermatitis stasis biasanya simetris dan melibatkan lengan bawah, paha, kaki, badan, muka, tangan, leher, dan kaki.
  • Reaksi id biasanya didahului oleh eksaserbasi dari dermatitis sebelumnya yang diinduksi oleh infeksi, penggarukan, atau pengobatan yang tidak sesuai. (Reaksi id pada tinea incognito pernah dilaporkan)
  • Reaksi id juga pernah dilaporkan timbul setelah terapi radiasi dari tinea capitis.
  • Vesikel dapat timbul pada tangan atau kaki.
  • Jari-jari bisa sensitif

gambar 1 : Vesikel pada jari

  • Dapat juga terjadi karena perjalanan penyakit yang berhubungan dengan paparan agen yang menyebabkan infeksi
  • Tindakan religius atau adat istiadat tertentu dapat memungkinkan menjadi penyebab alergi kontak yang mungkin menimbulkan reaksi id.

Gambar 2 : Reaksi Id pada tubuh

Gambaran klinis reaksi id sungguh bervariasi dan sebagian besar penyebabnya dapat diketahui. Reaksi id, menurut definisi, terdapat pada lokasi yang jauh dari infeksi primer atau dermatitis. Mereka biasanya tersebar secara simetris. Gambaran klinisnya meliputi sebagai berikut:

  • Suatu erupsi yang tersebar luas, papul-papul follicular kecil  simetris, berhubungan dengan suatu kerion dan suatu erupsi pompholyxlike biasanya dihubungkan dengan tinea pedis.
  • Suatu keadaan akut, sangat gatal, reaksi maculopapular atau papulovesicular yang simetris melibatkan lengan bawah, paha, kaki, tubuh, muka, tangan, leher, dan kaki adalah khasnya dari reaksi id dengan dermatitis stasis.
  • Erupsi seperti Erisipelas pada kaki bagian anterior sekunder karena suatu dermatofitosis dapat terjadi (tidak sering).

Gambar 3 : Erupsi pada kaki bagian anterior

  • Manifestasi extrakutan diantaranya demam, anoreksia, adenopathy luas, splenomegaly, dan leukositosis (tidak sering).
  • Gambaran klinis jarang seperti eritema multiforme

ETIOLOGI

  • Infeksi dermatofit, histoplasmosis paru, mycobacteria, virus, bakteri, atau parasit (pediculosis).
  • Dermatitis kontak, Dermatitis stasis, atau dermatitis eczematous lain.
  • Papulonecrotic tuberculid dan beberapa  tuberculids lain, kini dianggap sebagai wujud sebenarnya dari tuberculosis dan bukan reaksi id oleh karena pada identifikasi (oleh polymerase chain reaction) Mycobacterium tuberculosis ditemukan pada kelainan.

DIFERENSIAL DIAGNOSA

  1. Dermatitis Atopic
  2. Dermatitis Kontak Alergika
  3. Dermatitis Kontak Iritan
  4. Cutaneous T-Cell Lymphoma
  5. Tuberkulosis Kutis
  6. Dermatitis Herpetiformis
  7. Drug Eruptions
  8. Dyshidrotic Eczema
  9. Eosinophilic Pustular Folliculitis

10. Erysipelas

11. Folliculitis

12. Gianotti-Crosti Syndrome (Papular Acrodermatitis of Childhood)

13. Granuloma Annulare

14. Insect Bites

15. Linear IgA Dermatosis

16. Papulonecrotic Tuberculids

17. Pityriasis Lichenoides

18. Pityrosporum Folliculitis

19. Prurigo Nodularis

20. Scabies

DIAGNOSIS

Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium reaksi id adalah untuk dermatophytids.

  • Kriteria yang tegas termasuk suatu infeksi dermatofit dan suatu temuan uji kulit yang positif untuk suatu antigen trichophytin yang spesifik.
  • Tidak adanya jamur pada kelainan dermatophytid dan tidak adanya dermatophytid setelah jamur dibasmi perlu untuk mengkonfirmasikan hasil diagnosa pasti suatu reaksi dermatophytid.

Pemeriksaan lain

  • Pach Test diperlukan untuk menyingkirkan sekunder dermatitis kontak alergika. Pach Test juga diperlukan untuk mengidentifikasi kontak alergen.
  • Biopsi dengan pewarnaan hematoxylin dan eosin yang rutin bisa sangat menolong untuk menyingkirkan noneczematous dermatoses, yang mempunyai morfologi yang sama dengan reaksi id.

Pemeriksaan Histopatologi

Histopatologi dari kelainan papulovesicular yang khas mengungkapkan suatu infiltrasi superficial perivascular lymphohistiocytic dengan epidermis spongiotic, sering kali dengan vesikulasi. Sejumlah kecil dari eosinofili dapat ditemukan infiltrasi di dermis. Dengan definisi, infeksi seharusnya tidak ditemukan pada spesimen.

PENATALAKSANAAN

Tujuannya untuk mendapatkan terapi yang adekuat terhadap penyebab infeksi atau dermatitis yang menyebabkan reaksi id. Sering timbul Kekambuhan, terutama jika penyebab utamanya tidak diterapi dengan adekuat.

Penatalaksanaan erupsi

  • Kortikosteroid topikal atau sistemik
  • Kompres basah
  • Antihistamin sistemik

Farmakoterapi

Tujuan utama pengobatan farmakoterapi adalah untuk mengurangi angka kesakitan dan mencegah komplikasi.

1. kortikosteroid Membantu memperbaiki kelainan dan mengurangi gejala gatal. Kekuatan dan pemakaian suatu kortikosteroid topikal harus dipilih berdasarkan tingkat, lokasi, dan bentuk dari erupsi. Kortikosteroid sistemik bisa digunakan untuk erupsi yang berat. Beberapa kortikosteroid yang sering digunakan adalah :

  • Amcinonide (Cyclocort)
  • Fluocinonide (Fluonex, Lidex)
  • Prednisone (Orasone, Sterapred, Deltasone)
  • Methylprednisolone (Depo-Medrol, Medrol, Adlone, Solu-Medrol)

2. Antihistamin Obat ini dapat mengurangi  gatal. Mengurangi garukan dengan menghambat  pelepasan histamine secara endogen. Beberapa antihistamin yang sering digunakan adalah :

  • Diphenhydramine (Benadryl, Benylin, Caladryl, Dermapax)
  • Loratadine (Claritin, Alavert)

KOMPLIKASI

  • Infeksi sekunder
  • Dermatitis kontak alergi sekunder akibat dari pengobatan topikal atau penggunaan emollien.

PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik selama etiologinya diketahui dan di terapi dengan baik.

No Responses to “ID REACTION”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: