Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

Multiple sclerosis


Multiple sclerosis yang juga dikenal sebagai ensefalitis disseminate merupakan suatu peradangan kronik dari penyakit demielinisasi yang mempengaruhi SSP. Penyakit biasanya menyerang dewasa muda dan lebih sering pada wanita. Nama MS dihubungkan dengan sikatriks / skar yang terjadi pada substansia putih.

MS mempengaruhi area dari otak dan medulla spinalis yang dikenal sebagai substansia putih. Substansi ini membawa sinyal masuk diantara substansi abu – abu. Lebih spesifik, MS menghancurkan oligodendrosit yang merupakan sel yang bertanggungjawab untuk menciptakan dan mengatur lapisan lemak, yang dikenal sebagai selubung myelin, yang membantu sel neuron membawa sinyal elektrik.  MS menghasilkan penipisan sampai hilangnya myelin secara komplit. Ketika lapisan myelin hilang, neuron tidak dapat lagi secara efektif menghantarkan sinyal / impuls elektriknya, dan hal ini menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala yang sangat bervariasi tergantung dari sinyal mana yang terinterupsi. Hampir semua gejala neurologist dapat menyertai kelainan ini.

MS memiliki beberapa bentuk, dengan gejala baru yang terjadi baik dalam serangan yang memiliki ciri – ciri tersendiri ( bentuk relaps ) ataupun bentuk progresif yang timbul secara perlahan. Banyak orang pertama kali terdiagnosa dengan relapsing – remitting MS namun kemudian berkembang menjadi bentuk progressif MS yang sekunder setelah beberapa tahun. Diantara serangan, gejala – gejala mungkin menghilang secara komplit, namun masalah neurologik yang permanent tetap ada, terutama jika penyakit sudah lanjut.

Walaupun mekanisme yang terjadi dari penyakit ini sudah banyak diketahui, penyebab utama masih sukar untuk dimengerti. Teori yang paling menyokong adalah bahwa penyakit ini merupakan hasil dari serangan yang dilakukan system imun tubuh kita terhadap system saraf kita sendiri. Beberapa mempercayai bahwa ini melibatkan penyakit metabolic, sedangkan beberapa orang yang lain menganggap bahwa ini disebabkan oleh virus ( Eipstein Barr ). Ada juga yang mempercayai bahwa ini merupakan akibat tidak adanya / defisiensi vitamin D pada waktu pertumbuhan

Penyakit ini tidak memiliki obat, namun beberapa terapi terbukti cukup membantu. Terapi ditujukan untuk mengembalikan fungsi setelah serangan, mencegah serangan baru dan mencegah terjadinya disabilitas. Obat – obatan yang digunakan meiliki beberapa kerugian dan banyak terapi yang masih dalam penelitian.

Prognosis MS tergantung dari subtype penyakit ini, karakteristik individual terhadap penyakit ini, gejala awal, dan derajat dari disabilitas. Harapan hidup dari pasien bagaimanapun juga sama seperti populasi yang normal dan dalam banyak kasus masih sangat mungkin untuk hidup normal

Tanda dan gejala

MS dapat menyebabkan gejala yang bervariasi  termasuk :

–          perubahan sensasi ( hipoestesia )

–          kelemahan otot,

–          spasme otot yang abnormal

–          kesulitan gerak

–          Ataxia

–          Disartria

–          Disfagia

–          Nistagmus, diplopia atau optic neuritis

–          Kelelahan akut atau syndrome nyeri kronik

–          Gangguan pada saluran cerna dan cesika urinaria

–          Gangguan fungsi kognitif

–          Gejala emocional ( terutama depresi )

–          Lhermitte sign

Serangan pertama biasanya bersifat sementara, asimptomatik dan sembuh sendiri. Gejala awal yang paling sering muncul adalah

–          Hipoestesia pada lengan, tungkai atau wajah                         33 %

–          Hilangnya penglihatan ( parcial / komplit )                             16 %

–          Kelemahan                                                                              13 %

Diagnosis

MS sangat sulit Di diagnosa pada stadium awal. Faktanya, diagnosis definitive tidak dapat dibuat sebelum menyingkirkan semua diagnosa banding. Pada MS relapsing – remitting, ditemukan bukti adanya 2 kejadian demyelinisasi yang terpisah dengan jarak minimal 30 hari. Pada kasus MS primer, harus ditemukan progresi yang lambat dari tanda dan gejala selama 6 bulan.

Dulu criteria yang sering dipaka adalah criteria Schumacher dan Poser. Namun saat ini criteria Mc Donald dipakai sebagai standar internasional untuk mendiagnosa MS, yang didasarkan pada temuan klinik, laboratorik dan radiologik.

  • Data klinis sendiri tidaklah cukup untuk diagnosis MS. Jika seseorang mengalami 2 gejala neurologik yang terpisah yang karakteristik untuk MS, dan penderita tersebut harus memiliki abnormalitas yang konsisten pada pemeriksaan fisik, maka diagnosa MS dapat dibuat tanpa test lebih jauh
  • MRI dan MRS ( Magnetic Resonance Spectroscopy ) otak dan medulla spinalis sering digunakan selama proses diagnosa. MRI menujukkan adanya area demyelinisasi / lesi sebagai titik / lingkaran yang terang pada film. Suatu substansi ( Gadolinium ), dapat diberikan secara IV untuk mewarnai plaque yang aktif dan dengan mengeliminasi dapat menunjukkan adanya lesi lama yang tidak berhubungan dengan gejala klinis. Ini dapat menyediakan bukti adanya suatu penyakit kronik yang dibutuhkan untuk diagnosa definitive dari MS
  • Pemeriksaan LCS dapat membuktikan adanya inflamasi kronik dari SSP. LCS diuji untuk pita oligoclonal yang merupakan immunoglobulin yang ditemukan pada 75 % – 85% pasien dengan MS, namun dapat juga ditemukan pada penyakit lain. Dikombinasikan dengan MRI dan data klinis, adanya oligoclonal band dapat membantu tegaknya diagnosa definitive dari MS. Pungsi lumbal merupakan prosedur yang harus dilakukan untuk mengambil sample LCS

No Responses to “Multiple sclerosis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: