Welcome To My Blog
Assalamualaikum Wr. Wb.

Rujukan oh Rujukan


CIMG2001

Akhir-akhir ini dunia kesehatan di Indonesia sedang disorot, imbas dari kasus bayi dera yang meninggal karena terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan dikarenakan ditolak oleh sejumlah rumah sakit dengan alasan rumah sakit tersebut penuh.

Saya sebagai salah satu tenaga kesehatan yang juga bertugas di rumah sakit kelas D juga sering sekali mengalami masalah ketika harus merujuk pasien yang memerlukan perawatan yang lebih intensif dan lebih baik di rumah sakit besar.

Biasanya saya merujuk pasien adalah ke rumah sakit pemerintah terdekat di sekitar rumah sakit saya (tidak usah saya sebutkan rumah sakitnya ya) hampir selama 2 tahun saya bekerja di UGD, belum penah sekalipun saya berhasi merujuk ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah tersebut, alasannya selalu sama…PENUH!!

Setelah gagal ke rumah sakit pemerintah, barulah saya beralih ke rumah sakit swasta terdekat, timbullah problem disini, apalagi jika pasien yang akan saya rujuk adalah pasien tidak mampu, karena sudah pasti RS swasta akan meminta DP (uang muka) sebelum pasien diperbolehkan dirujuk.

Belum lagi ada beberapa RS swasta yang meminta pemeriksaan laboratorium atau tindakan terterntu yang sudah pasti di RS kecil tempat saya bekerja ini sulit untuk dilakukan, namun pihak RS rujukan tetep aja kekeuh bahwa pemeriksaan laboratorium atau tindakan tersebut harus dilakukan sebelum pasien dirujuk, meskipun keadaaan umum pasien baik-baik saja.

Saat ini media dengan sangat tidak adil mengekspos kasus bayi dera sedemikian rupa, sehingga menggiring opini masyarakat untuk memojokkan institusi kesehatan di Indonesia, dan hal ini tidaklah sepenuhnya benar!!

Masalah kesulitan dalam rujuk merujuk ini memang, tidak sepenuhnya pihak RS rujukan bersalah, bisa saja mereka memang benar kalau ruang ICU (intensive care unit) atau NICU (neonatal intensive care unit) mereka penuh, atau karena adanya protap atau aturan tentang penanganan pasien rujukan yang berlaku di RS mereka.

Sayapun mengerti, karena saya juga pernah bertugas di RS pemerintah yang merupakan rujukan dari puskesmas atau RS wilayah lain, memang berat rasanya menolak pasien, namun apa daya kalau rumah sakit kami pun tidak bisa menanganinya, yaa…dengan terpaksa harus kami rujuk lagi.

Namun pihak RS juga tidak seharusnya melakukan tindakan penolakan secara ekstrim, ekstrim itu dalam artian ketika pasien rujukan datang di UGD (unit gawat darurat) pihak RS jangan langsung menolak ataupun menyuruh pasien untuk pergi dan mencari RS lain, sudah sepantasnya pihak RS, menangani si pasien, apalagi bila keadaaan umum si pasien kurang bagus, seperti misalnya jika pasien dalam keadaan sesak, perdarahan ataupun kondisi-kondisi darurat yang lain.

Pihak RS seharusnya menangani terlebih dahulu keadaan darurat yang dialami pasien, sambil si pasien atau keluarga pasien dijelaskan tentang kondisi pasien dan bahwa dengan kondisi pasien yang bla…bla..bla tidak bisa dirawat di RS tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas atau karena penuh.

Saya yakin dengan penanganan sementara dan penjelasan seperti itu di UGD, keluarga pasien pasti akan mengerti, dan justru malah berterima kasih, sekalipun akhirnya si pasien tidak tertolong lagi dan meninggal di UGD.

Mengutip pernyataan salah satu dosen saya dulu,

bahwa “medicine is an art”

Pengobatan adalah seni, baik seni meracik atau mengkombinasikan obat ataupun tindakan lain, maupun seni berbicara dan memberikan sugesti kepada pasien atau keluarga pasien.

Prinsipnya tangani dulu, berbicara kemudian, jangan langsung menolak kedatangan pasien, karena hal ini lah yang justru dapat menjadi bumerang bagi RS, karena si pasien atau keluarga pasien yang datang pasti akan sangat sakit hati jika tanpa ditangani, hanya di tanya-tanya sedikit mereka langsung ditolak, padahal RS yang mereka tuju adalah RS besar yang notabene dalam pikiran mereka pasti mempunyai fasilitas yang lebih lengkap.

Pihak perujuk pun juga harus tahu kemana mereka akan merujuk, jangan sampai mereka merujuk ke fasilitas kesehatan yang tidak mempunyai fasilitas kesehatan yang lengkap, sehingga ujung-ujungnya hanya akan membuat si pasien akhirnya dirujuk lagi.

Untuk mengatasi masalah yang multifaktorial ini memang diperlukan campur tangan dari pemerintah, saya setuju sekali dengan keinginan DEPKES yang ingin membuat sistem rujukan online, sehingga pihak perujuk baik itu dari puskesmas, klinik, praktek pribadi ataupun RS kecil akan mengetahui apakah di RS yang akan mereka tuju itu tersedia ruangan, dan tentunya memiliki fasilitas yang mereka inginkan.

Dan tentunya hal terakhir yang perlu diperbaiki untuk mengatasi masalah rujuk merujuk ini adalah dengan peningkatan kualitas dan kuantitas baik sumber daya manusia maupun sumber daya peralatan dimulai dari tingkat pelayanan kesehatan dasar seperti di puskesmas ataupun di klinik-klinik.

yah saya sebagai salah seorang pelaku di dunia kesehatan hanya bisa berharap semoga semua kebijakan dan segala tetek bengek yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem pelayanan di semua institusi kesehatan di negara kita tercinta ini segera terealisasi, sehingga tidak akan ada lagi kasus-kasus seperti bayi dera tersebut…..amien

4 Responses to “Rujukan oh Rujukan”

  1. Kebetulan saya pernah menjadi salah satu saksi salah satu kasus yang memojokan institusi kesehatan,seringkali tidak sepenuhnya benar yang diberitakan media, “agar laku” , hanya Tuhan yang maha tahu apa yang terjadi sebenarnya, makan karena mendapatkan uang dari menyebar fitnah, akan terus mengalir dalam tubuhya, dan pasti mendapatkan balasan didunia ataupun akhirat

  2. terkadang tak adil dalam memberitakan apa yg ada.dan terus mencari cari kesalahan.
    dab bagi rumah sakit utamakan lah keselamatan pasien,karena jika kita tak bersahabt dg keselamatan pasien,maka lambat laun mereka akan menyerang kita balik.

    • betul..betul…mengutip pernyataan dr. Nico A. Lumenta, MM, K-Nefrologi (ketua komite keselamatan pasien Indonesia) “bila keselamatan pasien tidak dijadikan sahabat rumah sakit, cepat atau lambat dia akan berbalik menjadi musuh rumah sakit”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: